~ Lelaki Senja ~

Sabtu, 30 Mei 2009


~ Lelaki Senja ~

Mataku tertuju pada satu wajah…….
Wajah yang sedemikian tirus..,wajah yang penuh dengan guratan perjuangan hidup....
Wajah yang tak lagi indah karna telah usang termakan usia....
Kurus....sangat kurus...hanya terlihat kulit saja yang membungkus tulangnya...
Tubuhnya sedemikian ringkih...bahkan hampir tak dapat lagi berdiri tegak...
Yah..ia kini harus berjalan dengan punggung yang tak lagi lurus...
Jemari tangan kanannya menggenggam erat sebuah kayu bulat kecil yang ia gunakan sebagai tongkat...
Yah..tanpa tongkat itu mungkin ia tak dapat menapaki jalan dengan sempurna...

Lalu jemari kirinya menggegam ujung sebuah karung usang yang menggelayuti punggungnya....
Dengan seragamnya : kaos putih yang mengelabu dan topi cat hitam yang koyak di bagian ujungnya, serta celana pendeknya. Semuanya meneriakkan satu kata pada otakku : KUMUH!!!
Ia berjalan dengan sangat lambat...matanya tajam menukik ke sekelilingnya : ke kanan kiri jalan yang di laluinya...ketika di dapati satu botol kemasan air mineral...ada senyum kecil dari bibirnya, yah aku dapat melihat pendar kebahagiaan di wajahnya..
Sepertinya sampah-sampah itulah yang membuatnya terus dapat bertahan di putaran waktu yang seringkali tak berpihak padanya.

Lelaki senja....ia dia adalah lelaki senja...lelaki yang masih berjuang melawan kerasnya kehidupan di usia senjanya.....sungguh geliat fisik nya tak mampu membohongi siapapun..Ia lelah...tak adakah ruang baginya untuk menikmati usia senja nya???
Kemana kah anak-anaknya??? Kemanakah keluarganya?? Kenapa ia sendirian di tengah-tengah kota?? Kenapa ia harus bekerja sekeras itu?? Tak adakah yang peduli padanya??
Kemana sih para aparatur negara?? Emang panti jumpo di yogya udah penuh?? Atau ini gara-gara dinas sosial dibubarkan??

Seketika wajah bapak terlihat jelas di hadapanku...lalu sudah ku duga...penyakitku kambuh lagi....cengengku kumat : hujan lagi deh di pelupuk mata..Ehm...bapak...sungguh aku tak kan pernah rela bila kesulitan singgah di hatimu...sungguh...azzamku akan semakin kuat...aku akan berusaha untuk selalu “ada” di usia senja mu nanti....
“Eh...kenapa nangis???”, seorang teman membuyarkan lamunanku....Hah!!! gawat ketahuan nih!!! ... temen-temen makin bingung karna yang ditanyain ga’ bersuara. (bukan ga mau jawab...tapi emang klo lagi nangis ga’ bisa ngomong..he..he...). Lalu adegan berikutnya adalah saling tuduh siapa kah yang menjadi ‘tersangka utama” penyebab menangisnya seorang penumpang “trans yogya”...Huh...dasar temen-temen nih, dari tadi cekakak-cekikik sendiri sih...jadinya sang kakek yang segede itu ga’ di liatnya sama sekali...

Dan lelaki senja itu...??? aku segera beranjak dari kursi halte trans yogya..ingin menyapanya dan memberikan sepotong roti yang ku bawa tadi.....Tapi sayang...mobil trans yang kami tunggu, sudah terlihat...waktu tak memberi kesempatan bagiku, untuk sekedar menyebrangi jalan dan lalu menyapanya....
Ah.....semoga Alloh menganugrahi kebahagiaan yang abadi baginya.................................


Bumi Yogya, 2009

~ Berlayar Ke Pulau Kapuk ~


~ Berlayar Ke Pulau Kapuk ~

Pagi hari setelah subuh, saya segera menuju ruang TV di kos saya. Ingin nyimak ceramah pagi karna Headset Hp rusak, jadinya ga’ bisa dengerin MQFM. Saya kaget ketika mendapati teman kos yang sedang duduk di kursi ruang TV dengan matanya yang terlihat lelah…
” Tadi malam tidur si sini mbak?? Ga’ kedinginan??”
“ aku belum tidur eee, habisnya ga’ bisa tidur…”
”Hah...??!!!”

Ehm...teman saya yang satu itu emang slalu tidur sekitar jam 2 atau jam 3 dini hari, tapi hari itu, hingga jam 5 pagi dia belum juga bisa terlelap. Kok bisa yah?? Katanya sih klo malam dia slalu asyik membaca bahan-bahan skripsinya plus browsing internet yang langsung online dari kamar nya. Hebatnya dia bisa tahan membaca tanpa kantuk hingga dini hari. Padahal saya sendiri seringkali hanya bisa bertahan hingga jam 10 malam. Kalau pun ada tugas yang mengharuskan lembur hingga tengah malam, saya hanya bisa bertahan dengan bantuan segelas kopi.

Bukan hanya ’dia’ yang begitu, masih ada beberapa teman lainnya yang hobby banget nongkrongin TV hingga tengah malem. Seringnya mereka baru beranjak tidur setelah tengah malam. Ada juga satu teman yang hobby nya ngobrol panjang buanggeeet. Jadinya dia punya hobby nelfon ataupun nungguin telfon setelah tengah malam..nah habis itu dia bakalan ngobrol hingga menjelang subuh. Katanya sih jam segitu kan nelfon murah buanget. Jadi ya kudu di manfaatin. Masih ada nih...yang juga punya kebiasaan tidur dini hari, nah klo kelompok yang satu ini, geng nya anak arsitektur. Klo ngerjain gambar atau maket bisa tahan ampe menjelang subuh juga..Wuih hebat deh mereka.

Tapi sayang nya..... pola kebiasaan mereka-mereka tersebut menimbulkan kebiasaan yang tidak baik lainnya....apa coba?!
Yups...selain sama-sama suka tidur dini hari, mereka juga sama-sama suka bangun siang..sebagai akibatnya mereka harus ngorbanin sholat subuh mereka....karna mereka selalu bangun di waktu-waktu dhuha, bahkan hingga zuhur menjelang.
Wuih..repot kan?? Ini perkara besar yang bagi kita suka diremehkan!!
Sepertinya harus ada yang diperbaiki dari pola tidur kita deh...tapi bukan penambahan jam tidurnya loh?!

Pada dasarnya kan tidur merupakan kebutuhan setiap mahkluk hidup di dunia. Allah swt telah menetapkan bahwa tidur yang sesuai dengan fitrah adalah malam hari. Nah, konon katanya tidur yang baik adalah tidur pada awal malam bukan setelah pertengahan malam.

Dr. Shabri el Qabbani dalam bukunya, Dokter Anda mengatakan, “Walaupun kita tidak dapat membantah pendapat bahwa tidur di waktu malam dapat digantikan dengan tidur di waktu siang, tetapi sebenarnya perbedaan antara tidur dalam gelap dan suasana tenang, dengan tidur dalam cahaya yang merangsang mata dan syaraf, sangat signifikan. Sehingga menyalakan lampu yang redup atau mematikan lampu kamar merupakan hal yang sangat baik untuk kita untuk menciptakan suasana gelap tersebut.

Penelitian juga menunjukkan bahwa seseorang akan mencapai tahap relaksasi penuh pada jam- jam pertama tidurnya dan tidur sebelum tengah malam memiliki manfaat dua kali lebih besar dari tidur setelah tengah malam. George Alfred tennes salah seorang pengikut Theodore stockman yang mengusung teori “Tidur secara alami” mengatakan bahwa tidur setelah tengah malam dapat melemahkan kemampuan untuk mengembalikan kebugaran jika dibandingkan dengan tidur sebelum tengah malam. Dan menurutnya pagi hari adalah swaktu yang paling tepat untuk bekerja, karena pada saat itu tubuh kita telah kembali bugar, segar dan aktif. Rasulullah saw bersabda “Umatku diberkahi di waktu pagi hari.”

Nah jadi, bagi kita yang sudah terlanjur punya pola tidur yang ga’ baik, buruan deh bikin pola baru yang lebih sehat. Kalaupun banyak tugas yang mengharuskan kita untuk terjaga/lembur di malam hari, maka akan sangar baik jika sebelum tengah malam kita tidur terlebih dahulu. Seminimalnya 2 jam deh, baru setelah itu kita bangun dan ngelanjutin kerjaan kita. Dan jangan tidur sebelum waktu subuh. Karna bagaimanapun juga sholat itu lebih baik dari pada tidur kan??. Sholat sunah rawatib sebelum subuh aja pahalanya diibaratkan lebih baik/ indah dari dunia dan segala isinya, apatah lagi sholat subuhnya…pasti lebih dasyat deh..betul ga’?!


Kaliurang, akhir Mei 2009
Saat diri belum juga “bernyali” untuk sekedar mengetuk satu persatu pintu kamar teman-teman di kala subuh memanggil..

~ Tentang Mahar ~

Kamis, 21 Mei 2009


~ Tentang mahar…~

Bunga-bunga kertas itu terlihat cantik, bewarna-warni, mulai dari merah, hijau, biru hingga ungu. Tersusun rapi dan manis dalam bingkai-bingkai yang elegan hingga menimbulkan kesan yang eksklusif. Sangat inspiratif dan kreatif. Tentu saja untuk memilikinya harus merogoh kantong yang tidak sedikit. Bunga yang baru saja saya lihat dari sebuah berita di layar kaca tersebut, bukan bunga biasa. Karna kertas-kertas penyusunnya merupakan memiliki nominal-nominal rupiah. Iya..uang kertas mulai dari lembar ratusan rupiah hingga lembar ratusan ribuan. Warna dan nilai nominal dari semua rangkaian bunga tersebut tergantung dari pemesannya. Karna rangkaian bunga tersebut merupakan salah satu desain ‘mahar’ uang untuk sang pengantin perempuan. Indah dan sangat menarik. Hanya saja saya kurang sreg, melihat mahar uang yang kesannya hanya dijadikan hiasan saja. Meskipun secara estetika itu jauh lebih baik daripada hanya sekedar dimasukkan ke dalam sebuah amplop.

Ngomong-ngomong tentang mahar, saya jadi teringat sesuatu hal. Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan SMS dari seorang kerabat :
”Ehm..’...Enak yah..jadi perempuan?? mau nikah dapat mahar, dapat hantaran, sesudah nikah setiap bulannya juga dapat uang tanpa harus susah-susah kerja, dapat kasih sayang, di jagain, dilindungin....pokoknya semuanya dapat. Sementara mas sebagai laki-laki harus nyiapin mahar, nyiapin hantaran, harus kerja keras untuk istri dan keluarganya, dan bertanggug jawab penuh atas semuanya..”

Saya mencoba mencerna kata-katanya. Sebagai perempuan saya mengakui hal itu, dan sungguh saya bersyukur dilahirkan sebagai seorang perempuan. Bukan hanya karna pernyataan sahabat saya tadi, tapi karna memang banyak keutamaan dan kemuliaan yang Islam berikan kepada kami. Tapi bukan bearti laki-laki lebih kalah hebat kan??
Saya lalu segera membalas SMS nya :

”Enak juga kan jadi laki-laki?? bebas menentukkan pilihan, lebih punya hak atas istrinya daripada orangtua istrinya sendiri, punya hak untuk dipatuhi, dihormati dan dilayani, memiliki kekuasaan penuh atas keluarganya dan terakhir diberikan hak untuk poligami.”Gimana, benerkan??

Satu SMS kembali saya terima :
”Yups...bener banget!!.he..he..., Alloh itu maha adil....,.”
” Lalu....jika diberi kesempatan memilih mahar, mahar apa yang kamu inginkan???

Wah..sebuah pertanyaan yang belum pernah terfikirkan sebelumnya..., Tapi lalu saya teringat sesuatu. Tentang mimpi-mimpi saya ke depan : tentang perpustakaan mini untuk anak-anak dan masyarakat sekitar saya..saya tersenyum seketika dan segera membalas sms tersebut...

”mahar yang saya inginkan adalah buku.., yups buku!!! puluhan buku-buku tebal bertemakan anak, pendidikan, motivasi dan romantisme kehidupan.,berikut rak-rak penyimpannya... he..he..”

Sebuah sms balasan saya terima:
”hua..!! hau..!! gedubrak!!!..., ga’ semua laki-laki direktur penerbitan tau?!, Kenapa ga’ sekalian minta gedung penerbitannya sekalian aja tuh..., J ^-^......”

Tentu saja saya tidak terlalu serius menjawab tentang mahar yang saya inginkan tersebut, karna saya tak sama sekali ingin menentukan. Jika pun diberi kesempatan untuk itu, maka pilihan jenis ”mahar” akan saya serahkan sepenuhnya kepada calon suami saya nantinya. Itu hak preogratifnya, dan sungguh saya tak ingin mencampurinya. Teringat kembali dengan sebuah hadist bahwa :
”Nikah yang paling besar barokahnya itu adalah yang murah maharnya.” (HR.Ahmad).

Jadi sungguh tak layak, jika kemudian mahar menjadi ”beban” yang memberatkan atau malah menjadi faktor penghambat pernikahan. Saya rasa setiap perempuan muslim faham betul akan hal tersebut. Hanya saja terkadang masalah-masalah ”mahar” justru ditimbulkan oleh faktor tuntutan keluarga calon perempuan atau faktor kebudayaan-kebudayaan setempat.

Yang saya ketahui adalah bahwa mahar merupakan pemberian yang penuh kerelaan dari suami kepada istrinya, apapun bentuknya. Mahar adalah bentuk kasih sayang, penghormatan, sekaligus jaminan ekonomi atas istri, yang diberikan oleh suaminya. Jadi syaratnya adalah kerelaan darinya. Bener ga’??

Tapi sebagai calon pemberi mahar, seorang laki-laki harus memahami sepenuhnya bahwa nilai ekonomis mahar sebagai jaminan kehidupan bagi seorang istri harus pula menjadi bahan pertimbangan , karena islam amat menghargai dan melindungi kaum perempuan.

Dulu, kepada Khadijah ra, rasulullah memberikan mahar 20 ekor unta merah, di lain riwayat 70 ekor, bahkan pada riwayat lain 100 ekor unta merah yang merupakan alat transportasi yang paling mewah pada masa itu.

Begitupun dengan para sahabat yang memberikan mahar pada para istri mereka dengan jumlah yang beragam, seperti Abdurahman bin Auf yang menikahi wanita anshar dengan mahar emas sebesar biji kurma, Tsabit bin Qais memberikan mahar sebidang kebun. Mahar Ali bin abi thalib ra kepada fatimah ra adalah sebuah baju besi huthamiyah yang saat itu bernilai amat tinggi.

Tapi ada juga seorang laki-laki yang karna kemiskinannya memeberikan mahar berupa pengajaran beberapa ayat Alquran kepada istrinya, sesuai yang dikuasai dengan baik.
( HR. Bukhari Muslim).

”Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. Annisa: 4).

Kaliurang, 21 Mei 2009
Spesial buat mba’ ku yang paling awet muda...Selamat yah...bentar lagi mahar itu sampai ke tanganmu..., Sungguh aku akan melepas masa lajangmu dengan suka cita sepenuh cinta di hati ini...meski harus di dahului gerimis di hati dan pelupuk mataku..^-^

~ Bersiap Menjadi Orangtua Yuk?! ~

Rabu, 29 April 2009


~ Bersiap Menjadi Orangtua Yuk?! ~

Nuwon pangapunten sa’doronge, mohon maaf sebelumnya, izinkan saya berbagi sedikit tentang ‘secuil’ ilmu yang baru saja saya dapatkan dari tempat belajar saya dan dari sebuah buku yang sangat menarik bagi saya. (sstt….ini buku baru saya beli sepekan yang lalu loh….^_^). “ Sharing” ini saya dedikasikan khusus bagi saya dan juga anda yang akan dan sedang menanti amanah baru : menjadi orangtua. Semoga bisa bermanfaat bagi kita, meskipun sederhana dan alakadarnya. Sok...dibaca atuh yah..kang, teteh, aa’,ade’, mas dan mba yu ne...monggo..^_^.

Konon katanya sebagai orang dewasa kita memiliki 3 peran utama bagi anak-anak di sekitar kita. Ketiga peran tersebut yaitu sebagai guru, sebagai orangtua dan sebagai teman bermain baginya. (Nah...bener kan..udah banyak yang tau..., he..he.., ga’ papa yah diinget lagi).

Mereka yang disebut orangtua adalah ayah kandung atau ibu kandung dari seorang anak. Sedangkan guru seringkali diartikan sebagai pengajar dan pendidik di lingkungan sekolah. Padahal sejatinya orangtua juga merupakan guru bagi anak-anaknya. Karna orangtua dan guru memiliki tugas yang sama yaitu mendidik, mengajar sekaligus melatih kemampuan seorang anak. Dalam hal ini ada 3 bagian kecerdasan anak yang harus diasah baik oleh orangtua maupun guru. 3 aspek kecerdasan itu adalah kecerdasan kognitif (otak), kecerdasan afektif (hati) dan kecerdasan Psikomotorik (tubuh).

Nah, mengajar adalah proses merubah anak dari ’tidak tau’ menjadi ’tau’, sisi kecerdasan yang diasah adalah kognitif (otak) si anak. Klo’ mendidik adalah proses merubah anak dari ’tidak mau’ menjadi ’mau’, sisi kecerdasan yang diasah adalah afektif (hati) si anak. Sedangkan melatih adalah proses merubah anak dari ’tidak bisa’ menjadi ’bisa’, sisi kecerdasan yang diasah adalah psikomotorik (tubuh).

Peran yang terakhir adalah kita sebagai teman bermain bagi anak-anak kita. Bagi anak bermain selain tuntutan naluri juga merupakan pekerjaan yang utama baginya. Karena mereka belajar banyak hal dalam bermain, baik ketrampilan motorik kasar, motorik halus, komunikasi, maupun pengembangan semua sisi multiple intellegence. Orangtua yang kreatif adalah mereka yang dapat menjadikan aktifitas sehari-hari sebagai bagian dari permainan. Menjadi teman bermain untuknya?? Sepertinya sederhana dan bisa dilakukan oleh setiap orangtua. Tapi pada kenyataannya masih banyak orangtua yang menyediakan waktu khusus untuk menemani anaknya bermain, terutama seorang ayah. Karna sebagian besar waktunya untuk bekerja sehingga waktunya dirumah dimaksimalkan untuk melepas lelah baginya. Sehingga seringkali peran orangtua didominansi olegh seorang ibu. Padahal sejatinya seorang ibu dan ayah memiliki peran yang sama dan seimbang.

Menurut Ida Nurlaila dalam bukunya Menyayangi Anak Sepenuh Hati (2008), bahwa seorang pengajar, pendidik sekaligus pelatih bagi anak-anak, harus memiliki karakteristik dasar sebagai berikut :

Ikhlas
Semua amal kita untuk Allah semata. Mendidik anak juga merupakan salah satu amal terbaik. Mendidik anak sebagai amanah Allah dan kita jadikan sebagai anak sholeh untuk menjalankan perintah Alloh dan membela agamaNya. Tanpa mengharapkan pamrih duniawi. Bukan untuk kebesaran dan kemuliaan kita sendiri.

Takwa
Meraih status tertinggi di sisi Alloh dengan melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya.
Ilmu
Kita harus membekali diri dengan ilmu dan ketrampilan. Misalnya dengan mengikuti parenting training, membeli buku-buku pendidikan anak, berlangganan majalah keluarga, dan lain sebagainya.

Penyabar
Kesabaran tidak memiliki batas. Ia mengalir dalam setiap situasi dan keadaan yang segala bentuknya, mulai dari senyuman hingga saatnya harus menghukum anak.
Rasa tanggungjawab
Meliputi tanggung jawab kepada keluarga dan masyarakat serta tanggung jawab kepada Alloh untuk merawat titipsnNya dan menggembalikan kepada Alloh dalam keadaan fitrahnya.

Kasih sayang
Hanya kasih sayang yang membuat seseorang bertahan untuk mencintai anak tanpa henti. Seperti apapun anak kita atau bagaimanapun prilakunya.

Yuk..kita jenguk hati dan diri kita !, Bila ternyata kita belum sepenuhnya memiliki karakter diri sebagi orangtua. Bukankan wajar jika hingga saat ini Alloh belum menghendaki ”hadirnya” di antara kita. Karna kehadirannya bukan hanya sekedar ’meramaikan’ rumah kita kan?? Menurut anda gimana??

Kaliurang, 16 April 09
Spesial untuk mas yudi & istri, Mba’ yanti & suami, Dewi Lestari & suami semoga penantian itu akan segera berujung.

~ K o l a b u r a s i A l a m ~


~ K o l a b u r a s i A l a m ~


Aku masih di sini……
Di antara gunung-gunung perkasa yang dihamparkanNYA, Ia masih kokoh berdiri, tinggi menjulang menuju permukaan langit biru..., berpelukan awan- awan putih yang terserak indah, bermandikan jutaan kabut pagi.....damai...

Aku masih di sini...
Di antara gemerincing air yang menderu laju...menuruni alam....menumbuk bebatuan besar yang menghalanginya....mencari setiap celah-celah bebatuan agar terus bisa berlari mengejar waktu menuju muara terindahnya....dingin....

Aku masih di sini...
Di antara permadani hijau yang membentang luas di permukaan bumi yang tak datar...jutaan pepohonan rimbun yang bergelayut manja pada alamku...yang menari indah saat sang bayu menerpa wajahnya.. sungguh tak ada satu makhlukpun yang tak terpesona keelokannya...asri....

Aku masih di sini....
Di antara kicauannya...burung-burung yang bernyanyi riang...bersahut-sahutan mesra....mendendangkan irama hatinya...syahdu...., di antara kepakan sayap mungilnya...bergerak indah mengangkasa luas....lepas...bebas....

Aku masih di sini...
Di antara desauan angin... yang menenggelamkanku dalam kesejukan jiwa....yang slalu membelaiku penuh kelembutan, saat mentari tersenyum cerah sepanjang hari.....sejuk...

Aku masih di sini...
Di antara lukisan alam terindah...hamparan sawah.....dan kerbau yang tak pernah letih membajaknya.....sungai-sungai kecil dan bebatuannya yang menemaninya...ikan-ikan yang terus bergerak tanpa henti...serta itik-itik yang berbaris rapi...serasi...

Aku masih di sini..
Di antara hiruk pikuk kehidupan....., manusia-manusia yang berbudi dan santun...., yang senantiasa tulus menaburkan sayangnya.... menyapa setiap diri yang melintasinya....ramah...

Aku masih di sini....
Di antara jutaan kenikmatan dariNYA...dalam rengkuhan mesra cintaNYA....dengan kesyukuran yang membuncah...., bahagia...Alhamdulillah.

”Lalu nikmat Allah yang manakah yang kau dustakan??”

Selasa, 28 April 2009
Kaliurang, Yogya.

~ Bermain Yuk Nak.... !!! ~


~ Bermain Yuk Nak.... !!!


~Ehmm....main?? siapa coba yang ga'suka?? Mulai dari anak kecil hingga kakek nenek sekalipun pasti suka dengan aktifitas ini.. : have fun. Eh tapi klo kakek-kakek dan nenek-nenek mainan apa yah?? Klo orang-orang dewasa seperti kita kan sukanya ’main hati’ yah??bener ga’? hayo ngaku!!...

Eh..maaf kok jadi ngelantur....saya bukan mau bahas itu kok, ini tentang ”mainan” anak-anak kita. Tapi...yang belum punya anak, wajib baca juga yah..., Ini demi masa depan generasi kita. Biar kedepannya kita bakalan punya Habibi junior, Thomas alfa edison junior, dan junior-junior lainnya. Nah loh, maaf nih bawa-bawa nama orang beken. Tau kan sejarahnya kenapa Pak Habibi tuh bisa buat pesawat terbang??, itu karena habibi kecil suka main pesawat-pesawatan, yang paling sering tuh buat pesawat kertas. Dan Habibi kecil bebas mengekspresikan dirinya, tak ada pantangan dan tak ada larangan, tak ada tekanan dari orang-orang disekitarnya yang membatasi imajinasinya. Terus tau juga kan sejarahnya kenapa si Thomas bisa nemuin lampu?? karna semuanya sudah tau, jadi ga’ perlu ditulis lagi yah.^_^.

Nah, sodara-sodaraku yang budiman (nyontek aa’Gym nih ...), di bawah ini adalah hasil resensi dari majalah UMMI edisi spesial, klo ga’ salah sih terbitan 1 tahun yang lalu. Tapi informasi tetap manfaat buat kita-kita orang loh..:), semoga....

Bermain adalah kegiatan yang membuat anak terlibat dalam kegiatan yang membuat anak terlibat dalam aktifitas yang membuatnya aktif, bergerak, dan dapat mengeksplorasi banyak hal. Dengan bermain anak akan aktif bergerak. Hal ini akan meningkatkan kesehatannya dan menjadi sarana yang menyenangkan untuk melatih anak terasah dalam kegiatan yang menuntut ketrampilan fisik (misalnya : olahraga). Bermain juga akan membuat anak belajar bermain peran dan bersosialisasi dengan oranglain. Ini bentuk latihan yang bagus untuk memasuki kehidupan sosial yang sebenarnya ada di masyarakat.
Dan satu yang pasti bermain adalah kegiatan yang menyenangkan dan sehat untuk anak.

Bagi anak-anak bermain amat sangat penting!, dengan bermain, seorang anak akan dapat kesempatan berkembang lebih optimal. Bermain akan dapat membuatnya dapat mengekspresikan perasaan dan gagasan serta membuatnya masuk ke alam imajinasi tak terbatas. Imajinasi inilah yang membuatnya tertuntun untuk kreatif.

Bermain menjadi aktifitas penting yang perlu diperhatikan orangtua pada anak. Karna bermain selain merupakan kegemaran anak-anak, juga merupakan satu sarana penting bila kita ingin menjadi lebih cerdas bahkan lebih pintar. Karna berbagai riset menunjukkan anak lebih mudah belajar, lebih mudah menyerap pelajaran, saat hati senang, diri mereka senang dan konsep diri mereka positif.

Melarang anak bermain dan melampiaskan energinya sama dengan mengurangi haknya senagai anak. Lagi pula, kurang bermain bisa membuat anak tak ceria dan tak percaya diri. Biasanya kalau anak kurang bermain atau kurang bermain kelompok, ia akan minder, kurang supel atau menjadi mudah sekali takut dengan teman-temannya. Anak yang cukup bermain akan memperlihatkan wajah yang lebih ceria dibanding anak yang sehari-hari hanya di suruh les ini itu yang membuat mereka merasa tertekan. (Dwiana Maya A.S.Psi, dosen di Fakultas Psikologi UPI , jakarta).

Peran Orangtua :
Pertama, menyeleksi permainan mana yang cocok dan mencerdaskan. Mainan yang ”sudah jadi” tak akan begitu merangsang anak berlatih berfikir. Karena itu orang tua harus rajin mencari mainan akan yang sifatnya bongkar pasang dengan tetap menyesuaikan umurnya. Mainan yang belum jadi akan membuat anak berfikir tentang proses. Proses membuat rumah, mobil dan sebagainya yang kini banyak terlewat karena orangtua lebih suka membelikan mobil-mobilan berbaterai yang tinggal dipencet ”on” – ”of”nya.

Kedua, orangtua harus mengintervensi permainan jika permainan itu merangsang agresivitas. Pisau yang berguna untuk bermain masak-masakan, misalnya bisa juga dipakai anak untuk melukai temannya. Tentu orangtua harus turun tangan untuk memberi tau fungsi pisau itu.

Ketiga, orangtua juga bisa memasukkan nilai-nilai, termasuk nilai spiritual. Biasakan agar si anak berdoa dulu sebelum bermain. Tanggung jawab bisa diajarkan dengan melatih si anak membereskan mainannya seusai bermain.


Ok..resensi selesai. Trims, telah bersedia membacanya....^_^...

Nah..kesimpulannya proses kreatif seseorang dimulai dari bermain kan???
Semoga kita bisa sepakat untuk tidak membatasi anak-anak kita untuk bermain?? Ketimbang waktu anak dihabiskan di depan TV atau dengan game, akan sangat baik jika anak-anak bermain. Ingat waktu kita masih kecil dulu kan??

Kaliurang, 24 April 2009

~ Sebuah Tanya Dari Anak Kita ~

Kamis, 16 April 2009


~ Sebuah tanya dari anak-anak kita ~

Seperti biasanya, setiap sore sehabis ashar, saya selalu beraktifitas di dapur, mempersiapkan hidangan untuk makan malam sekaligus membuat kue-kue sederhana atau gorengan ala kadarnya. Saya selalu ditemani Latifah, anak saya yang usianya belum genap 5 tahun. Di usianya yang masih dini, Ifah lebih tertarik bermain di dapur bersama saya, daripada bermain di luar. Meski ia lebih sering memperhatikan, terkadang sesekali menakar tepung, mengambilkan air atau hal-hal ringan yang sudah dapat dilakukan oleh anak-anak seusianya. Seringkali juga tangan mungilnya secara tak sengaja menumpahkan gula, memecahkan telur, bahkan memecahkan beberapa piring dan gelas kami. Tak ada kemarahan, tak ada kekecewaan dan tak ada hukuman atas semuanya, karna itu adalah proses pembelajaran yang harus dilaluinya. Dengan penjelasan sederhana, Lambat laun ia akan bisa dan akan lebih berhati-hati.

Sore itu tiba-tiba Ifah menanyakan sesuatu yang sebelumnya tak sama sekali terfikirkan oleh saya.

”Bunda kemarin ayah bilang, tempe buatnya dari kacang kedelai, trus kenapa sih kacang kedelai dinamain kedelai?” Ifah bertanya dengan wajah yang penuh antusias, sembari membolak-balikkan potongan-potongan tempe dengan tangan mungilnya.

”Ehm..kenapa Ifah nanya begitu??”

” Habisnya kan bunda pernah bilang, semua nama punya alasannya, nah kalau kacang hijau, kacang merah, dan kacang tanah, Ifah sudah tau alasannya. Kalau hijau karna warnanya hijau, kacang merah karna warnanya merah, kalau kacang tanah karna memang buahnya ada di dalam tanah.”

Iya... saya ingat beberapa waktu yang lalu ifah menanyakan perihal namanya. Kenapa sih Bunda dan Ayahnya memberi nama Latifah padanya, lalu dengan bahasa yang sederhana saya menjelaskan padanya bahwa kami ingin Ifah menjadi anak yang berhati lembut, karena Latifah itu artinya lembut. Sejak saat itu Ifah mulai sering menanyakan hal-hal yang berkaitan tentang nama seseorang yang dikenalnya bahkan nama-nama benda yang ia temui di sekelilingnya. Bahkan suatu ketika Ifah mengomentari nama saya. Bahwa nama ”agus” itu adalah nama laki-laki. Karna teman-teman saya dan suami saya yang mempunyai nama yang sama dengan saya kesemuanya adalah laki-laki. Ehm..sekecil itu Ifah memang sudah terlihat kritis dalam berfikir. Dan kami bersyukur memilikinya.

”Bun...Bunda..kok Bunda ngelamun jadi ngelamun??”

”Eh ...ga’ kok sayang...Bunda ga’ ngelamun, lagi mikir aja..,Subhanalloh!!, anak bunda makin hebat deh..., tapi maaf yah sayang...bunda juga belum tau jawabannya..”

Sungguh saat itu, saya tidak sama sekali punya jawaban atas pertanyaannya, tidak ada ide yang melintas sedikitpun.

”Yaah..Bunda.., Ifah kan ingin tau jawabannya sekarang juga.”

Ifah menyatakan ekspresi kekecewaannya, jika sedang cemberut begitu, saya justru tertawa dalam hati, karna wajahnya hampir sama persis dengan wajah ayahnya beberapa hari terakhir,saat tugas-tugas kuliah S2 nya menumpuk, hingga menyita waktu istirahat malamnya.

”Iya...Bunda ngerti sayang, tapi anak bunda yang sholihah harus sabar yah..., kita tunggu ayah pulang, siapa tau Ayah punya jawabannya buat Ifah....’

” Oia yah bunda...Ayah Ifah kan hebat yah, kemarin aja ayah ceritain Ifah tentang tanaman-tanaman ajaib.” Binar keceriaan kembali terpancar di wajahnya. Ia tersenyum penuh harapan, saat sedang begitu saya seperti sedang melihat wajah saya pada cermin datar. Senyumnya sama persis.

” Oke deh Bunda, Ifah tunggu Ayah pulang.”

45 menit berselang, semua aktifitas dapur selesai. Kalau sudah begitu pasti Ifah segera mengambil handuk dan peralatan mandinya. Ifah sudah terbiasa mandi sendiri tanpa bantuan saya, dan Ifah juga tak pernah mengganggu aktifitas saya di kamar mandi. Ia akan segera beranjak, jika saya juga telah beranjak dari kamar mandi.

Suara Honda Tiger terdengar memasuki halaman rumah kami, seperti biasanya, Mas Setyo memang selalu tiba di rumah sekitar jam 5 sore. Saya segera membukakan pintu depan, menyambut kedatangan mas Setyo. Demikian juga Ifah, ia akan terlebih dahulu mencium punggung ayahnya, setelah itu Mas Setyo akan segera mengendongnya ke ruang tengah. Bercengkerama dengan putri kecilnya sambil menikmati kue-kue manis buatan saya dan Ifah hingga waktu magrib menjelang.

Sore itu Ifah terlihat begitu lelah, Ia segera tertidur dalam pangkuan Mas Setyo tanpa sempat menanyakan perihal ’kacang kedelai’nya.
***************************************************

Saya dan Mas Setyo sama-sama memahami bahwa setiap anak terlahir dengan berbagai macam fitrah yang telah Alloh karuniakan padanya. Salah satu fitrah tersebut adalah ’Intelectual curiosity’ yaitu rasa ingin tahu yang luar biasa, hal ini ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan nya yang seolah tanpa batas : tanyaaa terus!!. Kami sadar sepenuhnya bahwa ketidaksabaran kami dalam menanggapinya justru akan mematikan keingintahuannya tersebut. Itu juga yang sedang terjadi pada ifah. Kadang terlalu banyak pertanyaan yang di lontarkannya, seolah tanpa henti. Tapi kami selalu berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan penuh kesabaran. Kami ingin Ifah banyak tau tentang segala hal di sekelilingnya. Karena anak dibawah usia lima tahun dapat dengan mudah menyerap informasi dalam jumlah yang luar biasa banyaknya.

Dan saya akui mas Setyo justru lebih sabar menghadapi Ifah, Ia bahkan jauh lebih kreatif daripada saya. Ia punya seribu jawaban dan seribu satu alasan atas setiap pertanyaan putri kecilnya. Tapi sore itu ketika saya menceritakan tentang pertanyaan putri sulungnya, mas Setyo terdiam sejenak dalam senyumnya, lalu mengatakan satu kalimat : ” Iya yah Bunda....., kenapa harus kacang kedelai??, Ayah ga’ punya jawaban untuknya.”
” Hua ...Ayah...?! jadi klo nanti Ifah bangun, terus nanya itu lagi gimana?”

Hari terus beranjak senja, otak kami terus berfikir sibuk mencari-cari jawab atas tanya buah hati kami. Sungguh kami tak ingin mengecewakannya.

”Bunda, coba deh bunda telfon Bu Linda, tanyakan padanya beliau kan guru TKIT, pasti beliau punya jawabannya...”
Spontan saja saya segera menuruti ide Mas Setyo, menanyakan perihal tersebut ke Bu Linda. Tapi saya harus kecewa ketika terdengar suara dari HP saya.

” Wah, maaf yah Bunda Ifah, saya ga’ punya jawabannya karena ga’ ada di kurikulum kami.”

Tepat di depan saya mas Setyo sudah menanti jawaban dari saya.
”Bu linda ga’ tau Yah, katanya ga ada di kurikulum...”
Seketika Mas Setyo nyengir, menahan tawa. ”Wah..moso yang gituan nyarinya di kurikulum toh?...”

”Udah deh bunda, biar ayah yang tanya ama Pak Yusuf, dosen S2 ayah yang barusan nyelesain S3nya di Paris. ”

Malam itu juga mas Setyo segera menghubungi dosennya via handphonenya. Saat itu mas Setyo sengaja meloudspeakerkan Hpnya agar saya juga bisa menyimak jawabannya. Mas Setyo membuka komunikasi dengan sangat sopan dan hati-hati. Percakapan mereka terkesan sangat akrab, tetapi saat mas Setyo menyampaikan pertanyaan Ifah ke Pak Yusuf, suasana berubah seketika.

” Hei, Setyo kamu mau mempermainkan saya?? Mau menguji saya?? Atau kamu ingin tesismu saya persulit??”

Ehm..gawat. Prof. Yusuf salah faham. Saya tidak merasa perlu melanjutnya percakapan antara mas Setyo dan Prof. nya itu. Satu yang pasti, kami belum memiliki jawaban atas pertanyaan buah hati kami. ???!!!

Bumi Alloh, Desember 2015.

**************************************************************

Jika suatu saat anda sebagai orantua dihadapkan pada pertanyaan yang sama, kira-kira jawaban seperti apa yang akan anda berikan untuk Ifah???????


Kamis, 16 April 2009
Ketika sedang berkaca pada hati,
anak-anak seperti apa yang akan terlahir dari diri qta???