~ Ayah..Tidak Hanya Bunda kan??? ~

Kamis, 02 Juli 2009


Ayah..Tidak Hanya Bunda kan???

Setiap anak yang lahir ibarat gelas kosong dan bening yang harus di isi dengan air oleh orangtuanya. Air inilah yang akan membentuk karakter, kepribadian, pola fikir. Dan pola sikap anak dalam mengarungi kehidupannya...”

“Bun.., kok nilai Zaffa pas-pas san begini sih?, makanya lain waktu Bunda harus lebih intens lagi dunk dampingin belajarnya…!!”

“ Bunda…kok tadi Zaffa begitu sih?, kan ga’ sopan, ayah kan malu dengan tamu kita tadi..., emang di sekolahnya ga’ diajarin yah? Bunda juga ga’ pernah ngajarinnya?”

“ Bunda…!!, nih si ade minta bacain buku cerita, tugas kantor ayah numpuk nih, Bunda aja deh yang bacain, lagian kan biasanya memang dengan bunda.”

Demikianlah ayah Zaffa sehari-hari. Selalu saja menyerahkan semua urusan Zaffa kepada istrinya : bunda Zaffa. Ia merasa bahwa tugas utamanya sebagai seorang ayah adalah menafkahi istri dan anak-anaknya, sementara segala urusan rumah tangga dan urusan anak adalah tugas istrinya.

Ayah Zaffa tentu tak sendiri, ada banyak ayah di masyarakat kita yang juga berfikiran sama sepertinya. Mereka melakukan pembagian wilayah tugas, tugas ayah adalah mencari nafkah dan karena itu sebagian besar waktunya ia habiskan di luar rumah, sementara ibu bertugas mengurusi dan mendidik anak karena punya banyak waktu di dalam rumah.

Dalam majalah Ummi edisi 02/XXI Juni 2009, Dr. H. Ahzahmi Sami’un Jazuli, MA., seorang dosen pasca sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyatakan bahwa pada dasarnya dalam Islam tidak ada pembedaan di antara ayah dan ibu dalam tugasnya mendidik anak-anak mereka. Hanya bedanya tugas ayah menjadi lebih berat karena dia memikul juga tugas-tugas lain di luar rumah, seperti mencari nafkah dan berdakwah. Sementara peran ibu dalam pendidikan anak justru dapat dikatakan sebagai mitra bagi para ayah.

Ayah dan ibu harus saling bekerjasama dalam pendidikan anak. Peran keduanya tidak bisa dilepaskan begitu saja. Sekalipun sang ayah sudah memenuhi kewajibannya mencari nafkah, hal itu tidak serta merta menggugurkan kewajibannya dalam mendidik anak, sehingga harus menyerahkan semua pendidikan anak hanya kepada seorang ibu. Orangtua juga tidak boleh sepenuhnya menyerahkan urusan pendidikan anak-anaknya ke sekolah. Kewajiban utama mendidik anak tetap ada di orangtuanya. Keberadaan sekolah hanya bersifat sekedar membantu.

Bagaimana dengan orang tua yang mengabaikan hak pendidikan anaknya??Ahzami merinci beberapa ancaman yang akan diterima orangtua tersebut.
Pertama, bisa berupa ancaman dunia. Jika orangtua tidak bisa mendidik anak dengan benar, maka anak yang tadinya nikmat dan anugrah Allah swt, bisa berubah menjadi fitnah atau ujian.
Kedua, Orangtua akan ditanya oleh Allah terkait anak. Karena anak adalah titipanNya. Jadi bila anak berbuat maksiat, orangtua terancam tidak masuk syurga.
Ketika anak disia-siakan atau tidak dididik dengan baik maka orang yang paling bertanggung jawab adalah orang yang paling menyia-nyiakan anaknya itu, yang tidak peduli pada anaknya.

Nah jadi, ayah bunda yang budiman, baik ayah maupun bunda sama-sama memikul tanggung jawab untuk mendidik anak-anak kita, agar mereka menjadi hamba yang Rabbani yang mampu memenuhi segala tuntutan hidup yang datang pada dirinya. Semoga setiap kita akan sukses mendidik anak-anak kita...Amiin..^_^

Kaliurang, 2 Juli 09.

~ Cinta yang Tak Sederhana....~


~ Cinta yang Tak Sederhana....~

Aku ingin mencintaiMu dengan sederhana :
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaiMu denganya tiada sederhana :
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikan air kehidupan
(21 Mei 2009)


Saya menemukan deretan kata tersebut dalam diary saya. Entah dari buku mana saya mengutipnya, satu hal yang pasti. Rangkaian kata tersebut, kembali membuat saya merenung : berhenti sejenak. Mencoba menelisik ke dalam hati hingga relung-relung yang terdalam. Mencari satu kata dalam jiwa.

C i n t a..........
Yups...Cinta......!!,

Hati ini sering terbeli oleh orang yang berbuat baik kepada kita. Itulah cinta..., Cinta yang membuat saya ringan berbuat bahkan berkorban. Saya cinta kepada orangtua yang sudah banyak memberi kebaikan. Saya pun Cinta kepada siapa saja yang membuat kita mendapatkan nikmat kebaikan. Tapi sesungguhnya semua sumber kebaikan adalah hanyalah dari Alloh. Sedangkan makhluk hanyalah jalan nikmat yang Dia berikan. Maka sesungguhnya kepadaNya lah saya harus jatuh cinta. Maka sesungguhnya cinta sejati adalah kepada sumber kebaikan, sumber segala kebahagiaan dan kenikmatan yang sampai kepada saya. Dia lah Alloh yang maha pecinta, Dia lah yang layak saya cintai dengan sepenuh hati.

Dalam senyapnya malam
Dalam gundahnya hati
Aku mencari makna sebuah cinta yang hakiki

Dalam raga terlena..
Resah hampanya jiwa....
Akhirnya ku temukan satu cinta di atas cinta
Fitrah manusia mencintai dicintai...
Setiap insan mengalami tentang rasa cinta

Kadang cinta bahagia
Kadang cinta jadi menderita
Kadang lupa segala-galanya
Karna itu kembali padaNya

Cinta kawan yang tak sepadan,
Cinta guru yang tak berujung,
Cinta ibu bapak tak terbalas diberikan sepanjang jalan..
Cinta Rasul bagaikan air, mengalir kepada umatnya
Cinta Alloh sebuah misteri bagi setiap hamba-hambaNya..
(cinta di atas cinta, The Fikr)

Ah...sungguh betapa malunya diri ini terhadapNYa. Setelah sadar begitu rapuhnya hati memanage satu kata itu : cinta...Astagfirullah......

Kaliurang, 2 Juli 09
Ketika menekuri perjalanan waktu...

~ Juni Terindah baginya...~


~ Juni Terindah baginya...~

Ahad, 14 Juni 2009
Hari yang begitu menyejarah baginya : mba’ ku yang sholihat. Hari yang menjadi saksi atas genapnya dien dua jiwa. Hari bahagia yang menghalalkan ikatan cinta antara 2 hati. Hari yang pernikahannya....., Alhamdulillah......

Dua hati menyatu kini..
Di dalam ikatan yang suci, ntuk mengikuti sunah nabi..
Berharap ridho Ilahi..
Semoga akan terciptakan keluarga penuh kasih sayang
Seperti yang pernh disampaikan Rasulullah tentang keluarganya.

Saat dua hati berjanji …
Tuk arungi hidup di jalanNya..
Alloh kan berkahi mereka
Kala dalam do’a, kala dalam asa.

Menjadilah mentari bening pagi terangi bumi terangi hati
Menjadilah keheningan malam, kala berjuta insan larut dalam do’a
Selamat datang di duniamu yg baru... terhanturkan do’a : semoga bahagia...^_^

Barokallahu laka wabaraka’ alaika wa jama’a bainakuma fii khoir (semoga Alloh mencurahkan keberkahan atasmu dan semoga Dia mempersatukan kamu berdua di dalam kebaikan). (HR Ahmad, Tirmidzi, Hakim, Ibnu Majah dan Baihaqi).


Pontianak, Juni 09.
Untuk kesekian kalinya aku menangis bahagia......

Bunda ...Sabar Dong....!!!

Sabtu, 27 Juni 2009


Bunda....Sabar Dong !!

"Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan." (Dorothy Law Nolte)


”Syifa!!!!, mainnya udahan dunk Nak...!!!,
“Memangnya kamu ga’ capek main melulu tiap hari?”
“Memangnya bunda ga’ capek ngomel terus tiap hari?”
” Syifa!! Klo Bunda bilangin, dengerin!, jangan bawel!!”

” Aduh......kamu main apalagi sih??”
” bisa ga’ kalau ga’ pakai berisik?”
”Tapi aku mau main Bun...”
”Sekarang diam!!!’ bunda capek, mau istirahat...“

Demikian salah satu potongan dialog antara Syifa dan bundanya pada suatu hari. Bagi bunda Syifa, ga’ ada satu hari yang terlewat tanpa emosi, katanya Syifa selalu sulit diatur. Sementara Syifa selalu bilang, kalau bundanya seringkali nyebelin. Karna terlalu sering menuntutnya melakukan ini dan itu. Ehmm...sebenarnya, siapa yah yang salah?

Ketika kecil dulu, anda pernah ngerasa jadi Syifa??...atau malah sekarang setelah dewasa dan berkeluarga ngerasa jadi Bunda nya Syifa??..Ehm...jangan deh yah...

Taukah anda bahwa bentuk penerapan disiplin yang terlalu keras pada anak -- yang biasanya dilakukan orang tua yang masih muda usia -- sebaiknya jangan dilakukan. Sebab bisa mempengaruhi mentalnya di masa mendatang.??? Begitulah kesimpulan hasil sebuah survei tentang orang tua dan perilaku agresif terhadap anak yang dilakukan oleh Murray Straus, seorang sosiolog dari University of New Hampshire terhadap 991 orang tua.
Menurut survei tersebut, membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orang tua. Dibandingkan tindakan yang lebih ekstrim lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar dengan panggilan bodoh, malas dan sebagainya, maka membentak memang paling banyak dilakukan.
Bukan hanya kepada anak, bayi pun kena bentak. Tetapi biasanya semakin muda usia orang tua, semakin sering pula mereka melakukan 'tindakan disiplin' tersebut.
Dari survei itu, 90% mengaku melakukan bentuk-bentuk agresi psikologis saat dua tahun pertama usia anak. Dan 75% di antaranya mengaku melakukan bentakan atau berteriak pada anak. Seperempat orang tua menyumpahi atau memaki anaknya, dan sekitar 6% bahkan mengancam untuk mengusir sang anak.
Menurut Straus, tindakan ini membawa efek psikologis jangka panjang bagi sang anak, walaupun secara hukum belum bisa disebut kekerasan terhadap anak. Tetapi memang dampaknya tidak langsung kelihatan dan biasanya baru ketahuan setelah mereka semakin dewasa.
Straus menambahkan bahwa agresi psikologis itu bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan berperilaku buruk, karena berbagai faktor. Misalnya, menjadi kurang percaya diri, atau sebaliknya, menjadi pemberontak.
Tetapi yang paling dikhawatirkan adalah kalau mereka melakukan hal yang sama terhadap anak mereka kelak. Padahal kalau secara psikologis, kelakukan anak yang salah seharusnya diperbaiki, bukan dibentak-bentak dan dimarahi.
Yuk Ayah bunda…termasuk calon ayah dan bunda…jangan pernah jadi bunda syifa yah….jangan pernah ajari anak-anak kita dengan emosi yah…, sepakat kan?! ^_^.



Kaliurang, 28 Juni 2009
Terinspirasi ”Ummi” edisi lama buanget...milik seorang umahat...

~ Lelaki Senja ~

Sabtu, 30 Mei 2009


~ Lelaki Senja ~

Mataku tertuju pada satu wajah…….
Wajah yang sedemikian tirus..,wajah yang penuh dengan guratan perjuangan hidup....
Wajah yang tak lagi indah karna telah usang termakan usia....
Kurus....sangat kurus...hanya terlihat kulit saja yang membungkus tulangnya...
Tubuhnya sedemikian ringkih...bahkan hampir tak dapat lagi berdiri tegak...
Yah..ia kini harus berjalan dengan punggung yang tak lagi lurus...
Jemari tangan kanannya menggenggam erat sebuah kayu bulat kecil yang ia gunakan sebagai tongkat...
Yah..tanpa tongkat itu mungkin ia tak dapat menapaki jalan dengan sempurna...

Lalu jemari kirinya menggegam ujung sebuah karung usang yang menggelayuti punggungnya....
Dengan seragamnya : kaos putih yang mengelabu dan topi cat hitam yang koyak di bagian ujungnya, serta celana pendeknya. Semuanya meneriakkan satu kata pada otakku : KUMUH!!!
Ia berjalan dengan sangat lambat...matanya tajam menukik ke sekelilingnya : ke kanan kiri jalan yang di laluinya...ketika di dapati satu botol kemasan air mineral...ada senyum kecil dari bibirnya, yah aku dapat melihat pendar kebahagiaan di wajahnya..
Sepertinya sampah-sampah itulah yang membuatnya terus dapat bertahan di putaran waktu yang seringkali tak berpihak padanya.

Lelaki senja....ia dia adalah lelaki senja...lelaki yang masih berjuang melawan kerasnya kehidupan di usia senjanya.....sungguh geliat fisik nya tak mampu membohongi siapapun..Ia lelah...tak adakah ruang baginya untuk menikmati usia senja nya???
Kemana kah anak-anaknya??? Kemanakah keluarganya?? Kenapa ia sendirian di tengah-tengah kota?? Kenapa ia harus bekerja sekeras itu?? Tak adakah yang peduli padanya??
Kemana sih para aparatur negara?? Emang panti jumpo di yogya udah penuh?? Atau ini gara-gara dinas sosial dibubarkan??

Seketika wajah bapak terlihat jelas di hadapanku...lalu sudah ku duga...penyakitku kambuh lagi....cengengku kumat : hujan lagi deh di pelupuk mata..Ehm...bapak...sungguh aku tak kan pernah rela bila kesulitan singgah di hatimu...sungguh...azzamku akan semakin kuat...aku akan berusaha untuk selalu “ada” di usia senja mu nanti....
“Eh...kenapa nangis???”, seorang teman membuyarkan lamunanku....Hah!!! gawat ketahuan nih!!! ... temen-temen makin bingung karna yang ditanyain ga’ bersuara. (bukan ga mau jawab...tapi emang klo lagi nangis ga’ bisa ngomong..he..he...). Lalu adegan berikutnya adalah saling tuduh siapa kah yang menjadi ‘tersangka utama” penyebab menangisnya seorang penumpang “trans yogya”...Huh...dasar temen-temen nih, dari tadi cekakak-cekikik sendiri sih...jadinya sang kakek yang segede itu ga’ di liatnya sama sekali...

Dan lelaki senja itu...??? aku segera beranjak dari kursi halte trans yogya..ingin menyapanya dan memberikan sepotong roti yang ku bawa tadi.....Tapi sayang...mobil trans yang kami tunggu, sudah terlihat...waktu tak memberi kesempatan bagiku, untuk sekedar menyebrangi jalan dan lalu menyapanya....
Ah.....semoga Alloh menganugrahi kebahagiaan yang abadi baginya.................................


Bumi Yogya, 2009

~ Berlayar Ke Pulau Kapuk ~


~ Berlayar Ke Pulau Kapuk ~

Pagi hari setelah subuh, saya segera menuju ruang TV di kos saya. Ingin nyimak ceramah pagi karna Headset Hp rusak, jadinya ga’ bisa dengerin MQFM. Saya kaget ketika mendapati teman kos yang sedang duduk di kursi ruang TV dengan matanya yang terlihat lelah…
” Tadi malam tidur si sini mbak?? Ga’ kedinginan??”
“ aku belum tidur eee, habisnya ga’ bisa tidur…”
”Hah...??!!!”

Ehm...teman saya yang satu itu emang slalu tidur sekitar jam 2 atau jam 3 dini hari, tapi hari itu, hingga jam 5 pagi dia belum juga bisa terlelap. Kok bisa yah?? Katanya sih klo malam dia slalu asyik membaca bahan-bahan skripsinya plus browsing internet yang langsung online dari kamar nya. Hebatnya dia bisa tahan membaca tanpa kantuk hingga dini hari. Padahal saya sendiri seringkali hanya bisa bertahan hingga jam 10 malam. Kalau pun ada tugas yang mengharuskan lembur hingga tengah malam, saya hanya bisa bertahan dengan bantuan segelas kopi.

Bukan hanya ’dia’ yang begitu, masih ada beberapa teman lainnya yang hobby banget nongkrongin TV hingga tengah malem. Seringnya mereka baru beranjak tidur setelah tengah malam. Ada juga satu teman yang hobby nya ngobrol panjang buanggeeet. Jadinya dia punya hobby nelfon ataupun nungguin telfon setelah tengah malam..nah habis itu dia bakalan ngobrol hingga menjelang subuh. Katanya sih jam segitu kan nelfon murah buanget. Jadi ya kudu di manfaatin. Masih ada nih...yang juga punya kebiasaan tidur dini hari, nah klo kelompok yang satu ini, geng nya anak arsitektur. Klo ngerjain gambar atau maket bisa tahan ampe menjelang subuh juga..Wuih hebat deh mereka.

Tapi sayang nya..... pola kebiasaan mereka-mereka tersebut menimbulkan kebiasaan yang tidak baik lainnya....apa coba?!
Yups...selain sama-sama suka tidur dini hari, mereka juga sama-sama suka bangun siang..sebagai akibatnya mereka harus ngorbanin sholat subuh mereka....karna mereka selalu bangun di waktu-waktu dhuha, bahkan hingga zuhur menjelang.
Wuih..repot kan?? Ini perkara besar yang bagi kita suka diremehkan!!
Sepertinya harus ada yang diperbaiki dari pola tidur kita deh...tapi bukan penambahan jam tidurnya loh?!

Pada dasarnya kan tidur merupakan kebutuhan setiap mahkluk hidup di dunia. Allah swt telah menetapkan bahwa tidur yang sesuai dengan fitrah adalah malam hari. Nah, konon katanya tidur yang baik adalah tidur pada awal malam bukan setelah pertengahan malam.

Dr. Shabri el Qabbani dalam bukunya, Dokter Anda mengatakan, “Walaupun kita tidak dapat membantah pendapat bahwa tidur di waktu malam dapat digantikan dengan tidur di waktu siang, tetapi sebenarnya perbedaan antara tidur dalam gelap dan suasana tenang, dengan tidur dalam cahaya yang merangsang mata dan syaraf, sangat signifikan. Sehingga menyalakan lampu yang redup atau mematikan lampu kamar merupakan hal yang sangat baik untuk kita untuk menciptakan suasana gelap tersebut.

Penelitian juga menunjukkan bahwa seseorang akan mencapai tahap relaksasi penuh pada jam- jam pertama tidurnya dan tidur sebelum tengah malam memiliki manfaat dua kali lebih besar dari tidur setelah tengah malam. George Alfred tennes salah seorang pengikut Theodore stockman yang mengusung teori “Tidur secara alami” mengatakan bahwa tidur setelah tengah malam dapat melemahkan kemampuan untuk mengembalikan kebugaran jika dibandingkan dengan tidur sebelum tengah malam. Dan menurutnya pagi hari adalah swaktu yang paling tepat untuk bekerja, karena pada saat itu tubuh kita telah kembali bugar, segar dan aktif. Rasulullah saw bersabda “Umatku diberkahi di waktu pagi hari.”

Nah jadi, bagi kita yang sudah terlanjur punya pola tidur yang ga’ baik, buruan deh bikin pola baru yang lebih sehat. Kalaupun banyak tugas yang mengharuskan kita untuk terjaga/lembur di malam hari, maka akan sangar baik jika sebelum tengah malam kita tidur terlebih dahulu. Seminimalnya 2 jam deh, baru setelah itu kita bangun dan ngelanjutin kerjaan kita. Dan jangan tidur sebelum waktu subuh. Karna bagaimanapun juga sholat itu lebih baik dari pada tidur kan??. Sholat sunah rawatib sebelum subuh aja pahalanya diibaratkan lebih baik/ indah dari dunia dan segala isinya, apatah lagi sholat subuhnya…pasti lebih dasyat deh..betul ga’?!


Kaliurang, akhir Mei 2009
Saat diri belum juga “bernyali” untuk sekedar mengetuk satu persatu pintu kamar teman-teman di kala subuh memanggil..

~ Tentang Mahar ~

Kamis, 21 Mei 2009


~ Tentang mahar…~

Bunga-bunga kertas itu terlihat cantik, bewarna-warni, mulai dari merah, hijau, biru hingga ungu. Tersusun rapi dan manis dalam bingkai-bingkai yang elegan hingga menimbulkan kesan yang eksklusif. Sangat inspiratif dan kreatif. Tentu saja untuk memilikinya harus merogoh kantong yang tidak sedikit. Bunga yang baru saja saya lihat dari sebuah berita di layar kaca tersebut, bukan bunga biasa. Karna kertas-kertas penyusunnya merupakan memiliki nominal-nominal rupiah. Iya..uang kertas mulai dari lembar ratusan rupiah hingga lembar ratusan ribuan. Warna dan nilai nominal dari semua rangkaian bunga tersebut tergantung dari pemesannya. Karna rangkaian bunga tersebut merupakan salah satu desain ‘mahar’ uang untuk sang pengantin perempuan. Indah dan sangat menarik. Hanya saja saya kurang sreg, melihat mahar uang yang kesannya hanya dijadikan hiasan saja. Meskipun secara estetika itu jauh lebih baik daripada hanya sekedar dimasukkan ke dalam sebuah amplop.

Ngomong-ngomong tentang mahar, saya jadi teringat sesuatu hal. Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan SMS dari seorang kerabat :
”Ehm..’...Enak yah..jadi perempuan?? mau nikah dapat mahar, dapat hantaran, sesudah nikah setiap bulannya juga dapat uang tanpa harus susah-susah kerja, dapat kasih sayang, di jagain, dilindungin....pokoknya semuanya dapat. Sementara mas sebagai laki-laki harus nyiapin mahar, nyiapin hantaran, harus kerja keras untuk istri dan keluarganya, dan bertanggug jawab penuh atas semuanya..”

Saya mencoba mencerna kata-katanya. Sebagai perempuan saya mengakui hal itu, dan sungguh saya bersyukur dilahirkan sebagai seorang perempuan. Bukan hanya karna pernyataan sahabat saya tadi, tapi karna memang banyak keutamaan dan kemuliaan yang Islam berikan kepada kami. Tapi bukan bearti laki-laki lebih kalah hebat kan??
Saya lalu segera membalas SMS nya :

”Enak juga kan jadi laki-laki?? bebas menentukkan pilihan, lebih punya hak atas istrinya daripada orangtua istrinya sendiri, punya hak untuk dipatuhi, dihormati dan dilayani, memiliki kekuasaan penuh atas keluarganya dan terakhir diberikan hak untuk poligami.”Gimana, benerkan??

Satu SMS kembali saya terima :
”Yups...bener banget!!.he..he..., Alloh itu maha adil....,.”
” Lalu....jika diberi kesempatan memilih mahar, mahar apa yang kamu inginkan???

Wah..sebuah pertanyaan yang belum pernah terfikirkan sebelumnya..., Tapi lalu saya teringat sesuatu. Tentang mimpi-mimpi saya ke depan : tentang perpustakaan mini untuk anak-anak dan masyarakat sekitar saya..saya tersenyum seketika dan segera membalas sms tersebut...

”mahar yang saya inginkan adalah buku.., yups buku!!! puluhan buku-buku tebal bertemakan anak, pendidikan, motivasi dan romantisme kehidupan.,berikut rak-rak penyimpannya... he..he..”

Sebuah sms balasan saya terima:
”hua..!! hau..!! gedubrak!!!..., ga’ semua laki-laki direktur penerbitan tau?!, Kenapa ga’ sekalian minta gedung penerbitannya sekalian aja tuh..., J ^-^......”

Tentu saja saya tidak terlalu serius menjawab tentang mahar yang saya inginkan tersebut, karna saya tak sama sekali ingin menentukan. Jika pun diberi kesempatan untuk itu, maka pilihan jenis ”mahar” akan saya serahkan sepenuhnya kepada calon suami saya nantinya. Itu hak preogratifnya, dan sungguh saya tak ingin mencampurinya. Teringat kembali dengan sebuah hadist bahwa :
”Nikah yang paling besar barokahnya itu adalah yang murah maharnya.” (HR.Ahmad).

Jadi sungguh tak layak, jika kemudian mahar menjadi ”beban” yang memberatkan atau malah menjadi faktor penghambat pernikahan. Saya rasa setiap perempuan muslim faham betul akan hal tersebut. Hanya saja terkadang masalah-masalah ”mahar” justru ditimbulkan oleh faktor tuntutan keluarga calon perempuan atau faktor kebudayaan-kebudayaan setempat.

Yang saya ketahui adalah bahwa mahar merupakan pemberian yang penuh kerelaan dari suami kepada istrinya, apapun bentuknya. Mahar adalah bentuk kasih sayang, penghormatan, sekaligus jaminan ekonomi atas istri, yang diberikan oleh suaminya. Jadi syaratnya adalah kerelaan darinya. Bener ga’??

Tapi sebagai calon pemberi mahar, seorang laki-laki harus memahami sepenuhnya bahwa nilai ekonomis mahar sebagai jaminan kehidupan bagi seorang istri harus pula menjadi bahan pertimbangan , karena islam amat menghargai dan melindungi kaum perempuan.

Dulu, kepada Khadijah ra, rasulullah memberikan mahar 20 ekor unta merah, di lain riwayat 70 ekor, bahkan pada riwayat lain 100 ekor unta merah yang merupakan alat transportasi yang paling mewah pada masa itu.

Begitupun dengan para sahabat yang memberikan mahar pada para istri mereka dengan jumlah yang beragam, seperti Abdurahman bin Auf yang menikahi wanita anshar dengan mahar emas sebesar biji kurma, Tsabit bin Qais memberikan mahar sebidang kebun. Mahar Ali bin abi thalib ra kepada fatimah ra adalah sebuah baju besi huthamiyah yang saat itu bernilai amat tinggi.

Tapi ada juga seorang laki-laki yang karna kemiskinannya memeberikan mahar berupa pengajaran beberapa ayat Alquran kepada istrinya, sesuai yang dikuasai dengan baik.
( HR. Bukhari Muslim).

”Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. Annisa: 4).

Kaliurang, 21 Mei 2009
Spesial buat mba’ ku yang paling awet muda...Selamat yah...bentar lagi mahar itu sampai ke tanganmu..., Sungguh aku akan melepas masa lajangmu dengan suka cita sepenuh cinta di hati ini...meski harus di dahului gerimis di hati dan pelupuk mataku..^-^