~ Lonceng Kematian ~

Kamis, 20 Agustus 2009


Dini hari, ketika diri masih nyaman berselimut mimpi terbuai dinginnya pagi yang menusuk. Tiba-tiba Hp saya begitu nyaring berdering, mengalunkan irama sebagai tanda panggilan masuk dari No. yang tak saya kenal, Saya segera terbangun, bergegas meraih Hp yang berada tepat di samping tangan kanan saya. Saat itu jam di layar Hp menunjukkan pukul 02.45 Wib. Saya lalu bersegera mengapprove panggilan tersebut

“Assalamualaikum, ini mbak Agus yah?.”
Ternyata seorang wanita, suaranya terdengar sangat lemah dan parau.
“Wa alaikumussalam. Oh iya, benar. Maaf ini siapa yah?”.
Saya tak sama sekali mengenali suara itu.
“Mbak Agus ini Ibunya Dini.”
Suaranya wanita itu semakin parau terdengar. Iya, saya mengenalnya. Beliau adalah ibunya Dini : adik binaan saya di Rohis sebuah SMU di Pontianak. Sudah lama saya tak bersilaturahim dengan beliau dan juga Dini anaknya, tepatnya sejak saya pergi ke Yogyakarta 3 bulan yang lalu. Saya merasa heran atas telfonnya yang sepagi itu. Tapi lalu tanpa jeda yang lama, saya segera menanyakan kabarnya, dengan begitu antusias.

“ Oh Ibu, bagaimana kabarnya sekarang?, Dininya juga apa kabar?..Su...”
Rangkaian kalimat tanya itu belum terselesaikan, dan harus terpotong oleh suara di seberang telfon. Suara itu semakin melemah, tersekat seolah menahan tangis.
“Mbak, sekarang Dini sudah nggak ada, Dini meninggal mbak.”
Deg!!, hati ini tersentak kaget, saya hampir tak mempercayainya. Tapi saya sadar sepenuhnya dan tidak sedang bermimpi.
”Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun.”

Hati ini kemudian luruh oleh rasa kehilangan yang teramat sangat. Saya tak lagi dapat membendung lara yang menghempas saya, tangis itupun pecah. Sepagi itu duka menyapa saya. Dini hari ini, DINI SEPTIASI PRATAMI, adinda saya yang pintar dan sholihat, telah pergi menghadap Rabb-Nya, di usianya yang belum genap 17 tahun. Hati saya kembali perih karna saya tak bisa memeluknya, mengecupnya untuk yang terakhir kalinya.

Pagi itu, saya kembali teringat dengan moment perpisahan kami. Saat-saat menjelang kepergian saya ke Yogya. Kami merangkai kebersamaan indah : mengabiskan hari itu ke toko buku dan mensinggahi sebuah masjid terbesar di Pontianak, lalu menutupnya dengan menikmati Es buah bersama hingga senja menjelang. Saya sengaja mendokumentasikan semuanya dengan kamera digital. Saya juga merekamnya dalam sebuah video. Sesuatu yang tak saya lakukan pada orang-orang lainnya yang juga akan saya tinggalkan. Entah mengapa, saat itu hanya moment perpisahan antara saya bersama Dini dan rekan-rekannya yang saya setting sesempurna mungkin. Satu persatu ’salam perpisahan’ mereka saya rekam. Kini saya mengerti kenapa saat itu Alloh menggerakkan saya untuk membuat sebuah video rekaman itu. Saya ingat ’pesan terakhir’nya saat itu : ”Mbak, jangan pernah putus asa yah, dan tetaplah istiqomah sampai kapanpun.”

Dini meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. Saya selalu teringat senyum manisnya, dengan jilbab merah jambunya yang menjuntai ke dada, baju merah jambu serta rok kotak merah bata yang ia kenakan terakhir kali kami bertemu. DINI, begitu dini Alloh memanggilnya kembali. Saya yakin Allah lebih menyanyanginya. Saya yakin Dini kini tersenyum bertemu Rabb-Nya.

Dini hari itu, 3 hari menjelang ramadhan Alloh kembali menabuhkan ’lonceng kematian ’ untuk saya. Sebagaimana menjelang ramadhan di tahun-tahun sebelumnya. Lonceng itu selalu menyampaikan pesannya :

”Jangan biarkan waktu demi waktu bertambah. Tapi tidak membawamu pada titik surga. Sebab, itulah sesungguhnya akhir perguliran waktu hidupmu. Itulah titik akhir perjalan waktu. Karena setelahnya, detik, menit, jam, hari, bulan, tahun tidak pernah ada dan tak pernah berarti lagi.”

¬ Betapa berharganya nikmat ’usia’ yang Allah berikan. Dan Ramadhan adalah anugrah teragung yang DIA berikan. Tak setiap kita bisa sampai padanya : Ramadhan Kariim. Selamat bagi kita yang diperkenan-Nya kembali berjumpa Ramadhan. Selamat menikmati jamuan ramadhan. Semoga ramadhan ini mampu menghantarkan kita ke syurga-Nya. Amiiin.


Rabu, 19 Agustus 2006.
Melepas kepergian adinda saya : Dini...

~ Ukiran Harap dari Jiwa ~


Berkata Ummu Mu’minin Aisyah ra : “Aku terbangun di pagi hari dan kudapati ilmu, iman dan ibadahku tidak bertambah, maka sesungguhnya pertambahan usiaku adalah kesia-siaan.”

Dua puluh empat tahun telah berlalu…
Setahun kembali telah menghilang dariku..

Rabb, sungguh aku mensyukuri semua nikmat dan karunia-Mu...
Atas semua anugrah terindah yang telah Engkau limpahkan padaku...
Atas cinta dan kasih sayang-Mu yang Engkau titipkan pada mereka,
Orang-orang yang yang hadir dalam hidupku...
Atas do’a Bapak dan Ibu yang selalu mengalir tanpa henti..
Atas rizki-Mu yang tak pernah terputus...
Atas ilmu-Mu yang selalu menaungiku..

Rabb, sungguh aku malu pada-Mu..
Atas setiap detik waktu yang terlalaikan...
Atas setiap kesempatan yang terabaikan...
Atas fitrah hati yang terkotori...
Atas aktifitas diri yang tak terjaga...

Rabb, aku masih hamba-Mu...
Yang hanya bisa mengharap belas kasih dari-Mu...
Sungguh aku memohon pada-Mu...
Atas dosa yang kian menggunung...
Ampuni aku dengan rahmat-Mu...

Rabb..yang maha membolak-balikkan hati..
Tetapkan hati ini pada agama-Mu dan ketaatan terhadap-Mu...
Rabb cintakan aku pada-Mu..
Rindukan aku pada saat-saat perjumpaan dengan-Mu

Jadikanlah indah pada akhir usiaku...
Kembalikan aku padaMu dengan jiwa yang bersih lagi tenang....
Syahid... syahidkan aku di jalan-Mu...
Amiiiiiiin...

14 Agustus 2009
Di 24 tahun usiaku kini.

~ Biarkan aku bernyanyi Bunda….~

Selasa, 21 Juli 2009


~ Biarkan aku bernyanyi Bunda….~


Dear Bunda dimanapun berada…..
Bunda, tempo hari ketika sedang berjalan-jalan. Saya sempat mendengar seorang anak yang berusia 3 tahunan menyanyikan lagunya Kuburan Band : “LUPA” dengan suara cadelnya : “ yupa…yupa…yupa yagi…yupa yagi airnya….” Maksunya pasti begini : “lupa…lupa…lupa lagi…lupa lagi syairnya…”…


MasyaAlloh…anak sekarang kok lebih sering melantunkan lagu orang dewasa yah Bun?? Habisnya di televisi kita nggak ada lagi program acara khusus lagu-lagu anak yah. Kenapa yah? Tapi program acara lagu-lagu dewasa? Jangan ditanya lagi deh...Buaanyak buangget!!! Di radio juga. Dimana-mana begitu. Akhirnya karna berulang-ulang mendengarnya, anak-anak kita jadi hafal deh liriknya. Kasihan bannget anak-anak kita Bun, nyanyi tapi nggak tau apa maksud lagunya. Baiknya mungkin kita harus rajin nyanyikan lagu-lagu anak buatnya yah Bun? atau kita perdengarkan dari kaset-kaset lagu anak-anak? Atau kita juga meminimalisir telinganya dari lagu-lagu orang dewasa?
Yang pasti Bunda jangan pernah memarahinya atau bahkan melarangnya saat ia sedang bernnyanyi lantunan lagu-lagu dewasa. Karna jika begitu bearti Bunda telah melanggar HAA atau Hak asasi anak-anak...(he..he..bercanda aja kok :))


Ehmmm.... ngomong-ngomong soal nyanyian anak-anak kita nih, Bunda tau nggak? Dari sebuah referensi yang saya dapatkan, Ternyata bernyanyi memiliki berbagai manfaat positif untuk anak-anak kita. Manfaat-manfaat positif tersebut yaitu Pertama, dengan bernyanyi ia akan belajar memahami konsep sederhana. Misalnya saja lagu Balonku, lagu ini akan membantunya untuk mengenal konsep pengenalan warna dan jumlah bilangan serta konsep pengurangan saat salah satu balon pecah.

Kedua, menyanyi akan menguatkan rasa percaya diri. Hampir semua anak kita suka bernyanyi kan Bun?? Berikan kesempatan padanya untuk bernyanyi. Hal ini akan menguatkan rasa percaya dirinya. Ia akan merasa mampu bernyanyi dan kelak tak akan malu untuk tampil di depan umum. Saat ini bernyanyi, berikan perhatian positif lewat pujian, ikut bersenandung, bergembira, sehingga ia merasa lebih dihargai dan lebih menambah rasa percaya dirinya.

Ketiga, menyanyi akan memperkaya kosakatanya. Selain itu ia akan lebih aktif bicara, Bunda. Sehingga kemampuan berbicaranya juga akan ikut terstimulasi. Jika dalam satu hari Bunda mengenalkan satu lagu sederhana maka setidaknya ia mampu menerima 5-8 kata baru.

Keempat, dengan menyanyi anak-anak kita akan menyelipkan gayanya sendiri. Perhatikan deh Bunda, ketika ia berjoget, bertepuk tangan, meninggikan atau merendahkan suaranya, memanjangkan pengucapan, bahkan ia akan bergaya seperti penyanyi sunguhan. Berikan kesempatan untuk melakukannya karena dengan begitu sebenarnya ia sedang menuangkan kreatifitas dan imajinasinya.

Kelima, bernyanyi akan membuat anak-anak kita lebih sehat Bunda. Kenapa? Karna saat bernyanyi ia akan menggerakkan otot-otot di daerah kepala seperti wajah dan leher bahkan seluruh tubuh saat ia bergoyang. Ini tentu akan menambah kebugarannya. Menyanyi juga akan membuat psikisnya lebih kondusif loh Bunda. Karena karena menyanyi akan selalu membuatnya senang dan terhibur. Tak hanya itu saja Bunda. Menyanyi pun dapat melatih kepekaan pendengaran, keteraturan bernafas juga melenturkan organ-organ bicaranya.

Keenam, bernyanyi akan membuat anak lebih aktif bergerak, sebab banyak lagu-lagu anak yang penuh semangat. Misalnya saat anak melantunkan lagu : ”aku seorang kapiten, mempunyai pedang panjang, kalau berjalan prok-prok-prok, aku seorang kapiten.” ia akan berjalan di tempat, lalu bertepuk tangan. Ini akan membuat ia lebih berani bertindak dan melakukan sesuatu.

Ketujuh, bila Bunda rajin bernyanyi bersamanya pasti Bunda akan merasakan lebih dekat dengannya kan? Karena itu Yuk sering-sering bernyanyi bersamanya dan menciptakan suasana yang menyenangkan dengannya!

Kedelapan, dengan bernyanyi Bunda bisa mengamati perkembangannya. Seperti perkembangan verbalnya, pendengaran, daya tangkap, motorik, peniruan, dan lainnya. Coba deh Bunda amati. Apakah ia meniru gerakan-gerakan yang Bunda contohkan?? Jika iya, bearti ia berkembang dengan normal Bunda..

Ehm....jadi ingat lagu favorit saya waktu kecil Bun...pasti Bunda kenal deh...

ambilkan bulan Bu...
ambilkan bulan Bu..
Yang selalu bersinar di langit....


Nah, lagu favorit Bunda waktu kecil apa?:)

Yuk Bun...bernyanyi lagi bersamanya. Biarkan ia mengenal lagu-lagu kecil kita dulu Bun.., Biarkan ia mengenal lagu-lagu baru dari bibir manis Bundanya....Bukan dari Kuburan Band, bukan dari D’ masif dan lain-lain. Setuju kan?!


Kaliurang, 20 Juli 2009

~ Kok, Berbohong Nak…?~


~ Kok, Berbohong Nak…?~

Di sebuah kelas seorang anak mengadu kepada Ibu Gurunya, Hana baru saja meniggalkan kelasnya karna harus ke kamar kecil. Tapi sekembalinya pensil yang tadi diletakkan di dekatnya hilang.

“Bu…., Pensil baru Hana hilang….”
“Tadi diletakkan dimana Nak?
“ Di sini Bu, di dekat buku Hana “
“Huuuu..hu….Hana mau pensil Hana…”
Hana terus merengek kehilangan pensilnya.
”Anak-anak Ibu, ada yang lihat pensil Hana nggak?”


Seisi kelas sibuk mencari-cari pensil baru Hana tersebut. Tapi tidak ada yang berhasil menemukannya.
”Coba lihat tasnya masing-masing, mungkin terselip di tasnya”
Setelah memeriksa tasnya masing-masing semuanya kompak menjawab :
”Nggak ada Bu...!!”
”Baik ibu percaya, anak-anak ibu smuanya jujur, karna anak jujur disayang Alloh”.


Sang Ibu sebenarnya menemukan satu wajah ”cemas” pada salah seorang anak. Tapi ia menunggu saat yang tepat. Saat semua anak-anak istirahat, Sang guru memeriksa tas seorang anak berwajah ”cemas” tadi. Ia menemukan pensil tersebut.

Ehm...kenapa anak tadi sampai berbohong kepada guru dan teman-temannya yah Bunda??
Kemungkinan besar hal tersebut terjadi karena adanya faktor pendorong dari diri anak. Mungkin ia menginginkan sebuah pensil baru tetapi orangtuanya tidak mau memberikannya. Atau mungkin karena si anak ingin mendapatkan perhatian lebih atau bisa jadi karena faktor lingkungan di rumah, sekolah maupun masyarakat yang membentuk karakter dan sifat tidak jujur pada anak. Benar nggak Bunda??
Nah, di bawah ini ada beberapa tips khusus untuk Bunda, agar bisa mencegah kasus-kasus seperti di atas terjadi, ada beberapa hal yang perlu Bunda perhatikan dalam pertumbuhan anak, di antaranya :

1. Ajarkanlah anak arti dan nilai kejujuran sejak kecil dengan memberikan contoh dan akibat yang bisa terjadi dari kebohongannya. Jika kebohongan sudah terlanjur terjadi, jangan hukum anak dengan keras tetapi Bunda harus membantunya untuk memperbaiki sifatnya agar tidak berbohong lagi. Contoh pada cerita di atas, Guru harus menyuruh dan menemani anak didiknya untuk mengembalikan pensil yang telah diambilnya. Bantu anak untuk memperbaiki kesalahannya dengan belajar untuk meminta maaf atas tindakan yang telah dilakukannya.

2. Jangan pernah mencaci ataupun membentak anak karena kebohongannya. Bunda bisa membuat pernyataan dan kalimat-kalimat yang baik yang memberikan kepercayaan Bunda dan juga pernyataan bahwa hal yang telah dilakukannya adalah sesuatu yang salah. Contohnya : "Bunda tahu nanda bukan seorang pembohong dan seorang yang suka mengambil kepunyaan orang lain, tapi mengapa nanda mengambil sesuatu yang bukan kepunyaan nanda?" dan seterusnya.

3. Ciptakan suasana lingkungan keluarga yang terbuka. Hal ini akan membuat anak terbuka dan tidak takut untuk mengemukakan pendapat dan perasaannya kepada orangtua maupun saudaranya, sehingga tidak ada hal yang ditutupi oleh anak.
Bunda, Tips di atas insyaAlloh dapat membantu anak untuk belajar jujur dan menuju proses menghargai diri sendiri serta orang lain dalam pertumbuhannya menjadi seorang remaja dan dewasa.Semoga.......!



Kaliurang, 20 Juli 09

~ Petualangan Anak Dare' Part 2..~


~ Petualangan Anak Dare' Part 2..~


“Mba’, besok kita mau jalan ke hutan wisata kaliurang, tuh di kaki gunung Merapi, ikut nggak?”

“Wah ..ikut dunk fren…!”
(biar flu berat ini belum sembuh-sembuh amat, biarin deh…yang penting bisa liat hutan merapi, titik)


Pagi hari…..ketika matahari sepenggalah, waktu dhuha gitu…petualangan kami siap dimulai. Kali ini petualangan nggak lagi by on foot, tapi by motorcycle. Para dare’ sudah naik kelas, eh maksudnya para dare’ sudah dapat fasilitas.

Sesaat sebelum berangkat, ternyata perlengkapan ada yang kurang. Helm ganda kurang satu. Nggak ada helm, so pasti petualangan nggak bisa dimulai.

”Papiiiiii....!!!”, eh salah deh...” Bapakkkk!!!”
”Eh...Bapak kost, nuwon sewu nggih, mau pinjem helm....nih...”


Dan Alhamdulillah dapat pinjeman helm …tapi alamak!! Helmnya ma emang helm standar,hitam kinclong lagi, ...tapi kaca depannya itu loh...ga’ ada...,
Ist OK lah…tenang aja..petualangan kudu tetep jalan…Maafkan daku helm…cukup ku peluk saja helmnya…bukan apa-apa, daku Cuma nggak siap jadi pelawak jalanan dadakan. cuma ntar klo ada om polisi baru deh di pake.

Lengkaplah sudah penderitaan…..ups maksudnya lengkaplah sudah perlengkapan, petualangan anak dare’ mencari merapi part 2 dimulai.

Kali ini 3 motor bebek benar-benar berbaris seperti bebek…mengikuti setiap lekuk tubuh kaliurang, menaiki tanjakan, menuruni menaiki lagi begitu seterusnya….berbelok kanan dan kiri, meliuk-liuk hingga tibalah di sebuah tempat yang sekian lama telah menunggu kehadiran kami : taman wisata kaliurang : Telogo Putri. Wah Subhanalloh asri banget euy alamnya!! Meski Pontianak banyak hutannya, tapi yang seperti ini, Nggak punya deh.

Ada 2 pilihan wisata yang disajikan telogo putri : pertama, kolam renang Telogo putrid (asal muasal namanya, konon karna pada jaman dahulu kala para putri keraton mandi di situ, dan air yang ada di kolam renang memang berasal dari sumber mata air alam : telogo).

Kedua, wisata pendakian bukit. Ada bukit kurang lebih setinggi 1-1,5 km dari permukaan tanah, dari puncak bukit tersebut kita bisa melihat keindahan merapi lebih dekat. Sebab oleh di Pontianak sudah sering berenang di sungai Kapuas (sapa tuh yah?). Maka kami memilih wisata yang kedua.



Lalu dengan sepenuh cinta di hati (cinta ama siapa yah?), dan sepenuh tenaga di tubuh (yang ini emang bener fren), kami menapaki satu demi satu anak tangga yang akan menghantarkan kami ke puncak bukit tersebut.


Nafasku tersengal…mulutku terpaksa ku buka lebar-lebar…hu..ha…hu..ha..ha….hu…, gawat nih hidungku masih mampet…kepalaku masih sedikit puyeng….mendaki bukit dengan kemiringan 65 derajat sejauh 1 km…serasa berkilo-kilo…
Ingin rasanya berteriak : “Friend, please deh….aku masih sakit!! Qta ga’ usah nyampe puncak yah?!..Please…..,” tapiiii…malu deh klo’ harus ngaku begitu…Jaim dikit dah…biar deh nguat-nguatin diri, : aku bisa!!!!...dengan tenaga yang tersisa, aku ngeringsek ke depan…”minggir!! Minggir!!!, : lady first…?!”
Hah…emang yang lain apa?! Ha..ha…ha..! dengan sepenuh hati, ku naiki tangga-tangga terakhir yang menghantarkanku ke puncak bukit.


YEESS!!! Nyampe!!! Alhamdulillah….!!!....beneran deh rasanya mau pingsan, andai ga’ ada orang lain di situ, pasti rebahan deh..suer deh!! tapi demi mempertahankan citra diri...(lagi-lagi jaim……, malu dunk… : ini rahasia perusahaan…he...he..)

Syukur deh ada ibu2 yang jualan air minum…
“Bu..please deh perlu energi nih!!!, brp bu ?! “
“5 ribu mba “
“Busyett dah, mahale Bu…”


Tepat di atas bukit ada sebuah bangunan semacam menara, 2 tingkat. Jika kita naik ke atas menara tersebut, maka kita bisa lebih leluasa melihat Merapi yang ada di hadapan bukit tersebut, atau seminimalnya kita bisa melihat panorama alam di bawah bukit tersebut. Hanya tiga orang teman yang berhasil naik ke menara tersebut, semntara aku dan sisanya merasa cukup puas sampai di atas bukit tanpa harus naik ke menara tersebut. (Habisnya menaranya tinggi, tacuuuuuut).


Setelah mendapatkan energi kembali, petualangan dilanjutkan. Saatnya menuruni bukit. (Gue paling demen nih, gampang banget turunnya...., cepeeeeet....he..he..).
Upacara penurunan bukit berlangsung dengan aman dan lancar. Acara dilanjutkan dengan makan bakso bareng. Lalu terakhir : zuhuran dunk!!!

Habis zuhuran di musola, qta masih asyik natapin pepohonan yang gede-gede di sekelilingnya, wah di deket musola tuh banyak monyet-monyet yang bebas berkeliaran…

Lagi asyik natapin monyet-monyet yang lucu abizzz, eh si emi teriak-teriak …
“Mba’ Agus!!! Jangan manjat pohon!! Ntar jatuh!!,”
Busyett deh, tuh anak , moso kalem-kalem gini, disamain ama monyet!! Ga’ sopan bgt deh….awas loh…
Spontan pas lihat beberapa monyet yang lagi asyik makanin pisang pemberian pengunjung, langsung deh kreatif : saatnya melakukan serangan balik.
“eh…Emi doyan banget ma pisang…biasanya ga’ mau!!,, kelaperan yah?? ”
Tuh anak langsung nunjukkin muka tengsin..Horeee!!! 1 sama deh..: draw..!

“Wah saudare-saudare, sekarang saatnya pulang…., coz orang sewaan qta nih Cuma bisa sampe jam segini nih...jam 2 dah ada agenda !!”(nggak sopan banget yah, moso teman kami yang yogya asli, yang bela-belain jadi guide buat kita, dibilang orang sewaan)

“huuuu….cepet bgt sih…...qta belum mau pulang nih!!
”apa mau dikata fren...., kata aja tak mau apa-apa..”


Akhirnya petualangan anak dare menemukan merapi THE END....:)

16 Juli 09
@ Kaliurang

~ Petualangan anak Dare, Part 1 ~


~ Petualangan anak Dare, Part 1 ~

Menjelajahi semesta….
Awal hari,... Matahari baru saja memancarkan sinarnya...burung-burung baru saja mulai bernyanyi..dan merapi masih terselimuti kabut...dan diantara teman-teman kost yang masih tertidur lelap dibuai mimpi-mimpinya...dan orang-orang yang lagi pada nabung di WC (eh, bener kan? Sebagian manusia klo pagi-pagi tuh suka nongkrongin WC..he...he...). Saya dan ketiga orang teman saya (dare pontianak) telah berdiri dengan manis dengan mengenakan kostum ’alakadar’nya..

Pagi ini kami telah siap memulai ”Petualangan Merapi”.
Yups sebagai mana hasil musyawarah tadi malam, kami sepakat memulai petualangan hari ini.......Garis start tepat di Kaliurang km 14,5 tepat posisi istana kami kokoh berdiri tegak ( kost kami beh...). Siap grak!!! Maju jalan!!!
Menyelusuri jalanan kaliurang dan melihat merapi lebih dekat. Karena sebagaimana kata pepatah tak kan lari gunung di kejar, maka kami tak kan mengejar-ngejarnya..tapi mendekatinya saja, ..he..he...Lagian ngapain juga main kejar-kejaran ama gunung : ”Cape’ deh!!!”

Meski dengan ’kampung tengah’ yang masih kosong tapi berbekal semangat 45’ tim kami terus berjalan ke atas dan sepakat tidak akan kembali kecuali jika kaki-kaki kami tiba-tiba protes : ”yang bener aje mo’ jalan terus-terusan...cape’ tau...please dunk ah !!!”

Tu..wa...ga... Pat...( ce ile..ini mah lagunya project Pop), maksudnya perlahan tapi pasti kaki-kaki kami terus menapaki jalan Kaliurang yang kian menanjak menuju Si Merapi yang telah setia menunggu kami. Tau nggak saudare-saudare? Jalanannya tuh sempit banget, terusnya arus kendaraan tuh nggak ada yang lelet : ngebut smua !, Nah kita kan takut ketabrak gitu...(maklum kami adalah pasukan yang belum rela mati, habisnya belum ada yang nikah je’...eh salah maksudnya amalnya masih sedikit gitu, alias masih banyak dosanya.:)). Jadinya agar hayat tetap dikandung badan, seringkali kita musti jalan seperti bebek, alias jalan satu-satu mirip bebek yang lagi jalan tuh.(meski urusan mati tuh udah di atur dari sononya, tapi kan kita kudu ikhtiar yah? Bener nggak fren?). Jadinya nggak ada istilah gandengan-gandengan gitu, kecuali gandengan ama angin yang sejuuuuk bgt.

Nah, terusnya supaya satu sama lain nggak ada yang ketinggalan, alias agar stabil jalannya. Maka langkah kita kudu dikompakin persiis seperti tentara yang lagi latihan : Kanan!! Kiri!! Kanan!! Kiri!!! (he...he..kebayang nggak ribetnya?)

Ketika perjalanan kaki sudah menempuk radius 600 meter, salah satu temen saya teriak : ”Wahh...jambu biji...i mis u...,” Gawat nih barisan pasukan bebek pun hancur, demi melihat buah jambu biji yang bergantungan ranum di tepi jalan.....: ”ehmm..kepingin bgt deh ”. Parahnya lagi salah satu syetan berhasil membisiki salah seorang temen. ”Eh Fren, ini milik umum kali yah?, ambil Yuk?.” Gubrak!!! Kasihan banget deh dia, mana ada pohon buah yang milik umum, adanya mah tanaman hias yang di tengah-tengah jalan tuh, lagian moso hari gini masih belum tau juga, dimana-mana nyuri kan dosa, mulai dari guru TK sampe dosen sampe pengemis dan pemulung juga tau tentang hal yang satu itu.

” Hiii..! sereem ah girl, ntar digebukin orang sekampung loh. Terus ntar dikoran-koran tuh tertulis :” satu mahasisiwi UII asal Pontianak tewas dihakimi masa, gara-gara mencuri jambu biji.” ...ah nggak lucu banget deh!!, masih banyak jalan biar kita jadi terkenal . Laper sih laper fren, tapi dosa mah tetep dosa tau!!”
”Lanjut Yok...!! Petualangan must be go on!”
” Kasihan tuh merapi, dah dari kemarin-kemarin nungguin qta orang nih...”


Pasukan bebek pun melanjutkan petualangannya, tapi kali ini nggak jalan bebek lagi. Tapi berganti posisi : dua-dua. Dah bosen jalan bebek(sebenarnya sih karna angin gunung semakin terasa dingiiiin, nah klo gandengan kan lumayan hanget gitu.). Nah memasuki radius 1,5 km dari start awal kita menemukan keramaian alias sebuah pasar pagi yang lumayan geudee. Sampe di sini pasukan bebek dah hampir kehabisan tenaga. Lagu keroncong dari dalam perut semakin nyaring terdengar. Dan yang paling penting kita dehidrasi juga. Akhirnya pasukan bebek memutuskan untuk singgah di warung kecil yang menjual berbagai gorengan plus ada satu bungkusan berukuran sedang. (ehm..isinya apa ya?)

”Pak ini apa?”
”Nasi kucing, Mbak ...”
”Wah kita nggak melihara kucing Pak, nasi manusianya ada nggak?”
”!!!!!????...., nasi kucing bukan untuk kucing mba, ini buat manusia, Cuma isinya nasi ama sambel doank : dikit lagi, makanya namanya nasi kucing.....”
”OOOOOOOOOOOOOOOOOOOoooooooooooooooooooooooooo”
(malu deh gue...)
” Nasi kucingnya satu Pak...”


Semua pasukan bebek sepakat makan nasi kucing plus air putih, beristirahat sambil mengatur strategi petualangan selanjutnya. Eh satu anggota pasukan lagi puasa, awalnya kuat-kuat aja. Tapi setelah diprovokasi oleh pasukan lainnya (kisahnya waktu rasulullah puasa sunah, trus di hidangi makanan, maka beliau membatalkan puasanya). Akhirnya ia memutuskan ikut menikmati nasi kucing (ngaku aja fren, emang kepingin buka sejak liat jambu tadi...he..he...)

”Pak merapi berapa kilo lagi yah?”
”Wah masih jauh mba’..sekitar 9-10 km lagi..”

”Gedubrak!!!! Mampus deh kita fren !!”
”Petualangan kita cukupkan sampe disini...”
”Petualangan to be continue...”
”Siap!!!! Kita pulang aja deh…..”


Akhirnya petualangan pasukan bebek menemukan merapi harus kandas di tengah jalan.
Dengan semangat 45 pasukan bebek menuruni jalanan kaliurang dan kembali ke istana tercinta.

”Tapi oooh my God!!!”
”i’m sorry.......i must see it..”


Di perjalanan pulang kami menemukannya : Lelaki tanpa busana, tanpa kain yang menutupi bagian-bagian ’rawan’ tubuhnya. MasyaAlloh, pamer niaaan!, Dia menunjukkan semua ciptaanNYa yang begitu apik dan Rapi tanpa malu....Dasar orang gila...Naudzubillah...
Merapi tak kami temukan tapi....Mas Rapi kami temukan...................gggrrrhtttzzzzz...


Memory, awal Mei 2009
@Kaliurang nan Permai.

~Kecelakaan itu,menguatkannya..~

Minggu, 19 Juli 2009

~ Kecelakaan itu, semakin menguatkannya...~

Suatu malam di tahun 2001, sekitar pukul 23.00 wib, Ia pulang dari tempat kerjanya, seperti biasa. Ia memang bekerja malam karna paginya ia juga menjadi mahasiswa di salah universitas swasta di Pontianak. Malam itu ia mengendarai motornya dengan kecepatan normal : 50-70 km/jam. Jalanan malam memang sepi. Wajar, jika beberapa pengemudi kendaraan seringkali menaikkan kecepatan kendaraan mereka. Hanya ada beberapa kendaraan yang ditemuinya. Hingga kemudian secara mendadak sebuah mobil sejenis JEEP yang datang dari arah berlawanan menabraknya. Tak sama sekali bisa mengelak. Motornya nyangkut di bawah bemper mobil depan. Malangnya sopir mobil tersebut tak sama sekali menghentikan kemudinya. Ternyata sopir tersebut tak menyadarinya dan baru tersadar ketika beberapa orang yang mengetahui kejadian tersebut (mereka tau karna terdengar suara gesekan yang sangat keras, antara besi-nesi motor dan aspal jalan) mengejar mobilnya dan meneriakinya agar berhenti. Miris banget!!.Mobil itu baru benar-benar berhenti sekitar 600 meter dari tempat kejadian awal. Bayangkan?! Ia dan motornya terseret sejauh 600 meter !!

Situasi pun menjadi ramai, karna tempat kejadian memang dekat dengan pemukiman masyarakat. Masyarakatpun memberikan beberapa pukulan terhadap sopir tersebut, tapi selidik punya selidik, ternyata sopir tersebut dalam kondisi mabuk. Syukurnya masyarakat masih mempunyai ”maaf” untuk sang sopir. Proses ”penghakiman masa” itu lalu dilanjutkan ke kantor polisi. Tapi masyarakat yang masih terbakar amarah lalu beramai-ramai membakar mobil tersebut. Hangus dan tamatlah riwayat kendaraan beroda empat yang tak tau diri itu.

Lalu bagaimana dengan kondisinya?? Dengan kondisi kecelakaan yang sedemikian hebat, masyarakat bahkan mengira ia telah meninggal jika tidak mungkin ia akan meninggal di RS. Tetapi Alloh membuktikan kekuasaanNYA. Ia selamat, darah hanya keluar dari luka terparahnya, di bagian tungkak kaki yang tertimpa motor dan bergesekan dengan aspal sejauh 600 meter. Bagian lainnya tak sama sekali mengalami luka luar. Kepalanya aman karna terlindungi oleh helm gandanya. Sementara punggungnya yang bergesekan dengan aspal hanya mengalami luka gores karna juga terlindungi oleh jeketnya yang tebal. Ia lalu dibawa ke rumah sakit dalam kondisi yang tak sadar dan baru sadar 3 hari kemudian. Tapi ia tak sama sekali dapat menggerakkan anggota tubuhnya kecuali mata, lidah dan kedua bibirnya. Meski hanya sebelah kakinya yang patah. Operasi pun dilakukan, untuk memasang pen di kakinya.

Ia diizinkan pulang dari RS sekitar 2 pekan kemudian. Ia lalu menjalani rawat jalan di rumahnya. Tapi sebulan kemudian, selama sepekan ia harus dirawat kembali di RS, karena luka kakinya mengalami pendarahan hebat. Setelahnya ia kembali dirawat di rumah, dengan kondisi lumpuh total selama 2 tahun. Ia kehilangan kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya, kehilangan pekerjaannya, bahkan ia kehilangan ’dunia muda’nya.
Sekian lama ia merasa sepi, hanya ada ibunya yang setiap saat selalu menemaninya, demikian juga dengan keluarga kandungnya yang lain. Awalnya teman-temannya masih sering mengunjunginya, tapi lambat laun mereka justru tak pernah datang kembali, sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing.

Awalnya ia merasa sulit menerima semuanya dan selalu merasa sendiri dalam ketidakberdayaannya. Perasaan kecewa, sedih, dan menyesali keadaan menemani hari-harinya selama beberapa bulan. Tapi kemudian ia justru merasakan kasih sayang NYA. Ia merasakan sentuhan-sentuhanNYa dalam kehidupannya. Ia merasa bahwa Alloh semakin dekat di hatinya. Lalu ia pun semakin tunduk terhadap ketentuanNYA. Hari-harinya kemudian penuh dengan ketawadhuan dan kekhusyuan ibadah kepadaNYa. Ia semakin sering menghabiskan waktunya dengan bacaan-bacaan islami. Sesuatu yang sebelumnya sangat jarang ia lakukan. Kian hari motivasinya untuk sehat semakin kuat. Ia semakin optimis untuk kembali bisa menggerakkan semua anggota tubuhnya seperti sedia kala.

Setiap hari setiap waktu, ia berusaha menggerakkan kaki dan tangannya. Mengikhtiarkan dengan sepenuh hati dan sepenuh harapan terhadapNYA. Meski awalnya tampak mustahil, tak ada respon sama sekali dari tubuhnya. Semua begitu sulit untuk digerakkan. Tapi 2 tahun setelah itu, sedikit demi sedikit jari-jari tangan dan kakinya mulai bisa digerakkan. Ia bersyukur dan semakin yakin bahwa suatu saat ia juga akan mampu mengerakkan semuanya. Hari ke hari ia terus mencoba dan mencoba.....! Hingga sekitar 5 tahun setelah peristiwa itu, Alloh mengizinkannya kembali berjalan menapaki bumi. Meski masih dengan menggunakan kruk dan tak sesempurna dulu. Tapi itu sebuah prestasi yang luar biasa!! Sebuah prestasi atas kesabarannya !! Sebuah prestasi atas harapannya yang tak pernah pupus!!! Sebuah prestasi atas ”nrimo”nya terhadap ketentuannya!!


”Abang menyesali semua keadaan tersebut??”
”Tidak sama sekali, justru abang mensyukuri semuanya, ada banyak hikmah yang Alloh bentangkan.”
”Abang ga’ membenci sopir itu?”
”Tidak sama sekali..., sejak lama abang sudah memaafkannya. Semua sudah ditentukannya. Jadi tidak seharusnya ada yang disalahkan..”


Ia adalah sahabat saya. Tempat saya berkaca diri. Lelaki yang begitu kuat dan tegar. Lelaki sholeh. Lelaki yang kesabarannya tak berbatas. Saya mengenalnya dari sebuah radio dakwah. Kami sama-sama menyukai salah satu program radio tersebut : Pena muda. Sebuah program yang membuat pendengarnya aktif menulis, terutama puisi islam. Dan Ia adalah salah satu pendengar yang aktif membacakan puisi-puisinya. Sebelum mengetahui kisah hidupnya, Seringkali puisinya membuat saya menangis. Karna memiliki makna yang begitu dalam. Alhamdulillah kemudian Alloh mempertemukan saya dengannya. Saya dan beberapa teman mengunjunginya. (karna fisiknya, hingga kini ia masih belum beraktifitas di luar rumah) hingga lalu ia menuturkan kisahnya dengan begitu tegar.

Sejak saat itu...setiap kali mengingatnya, saya merasa tertampar. Sebab oleh nikmat sehat yang sering terlewatkan begitu saja. Sebab oleh jarang mensyukuri pemberian dariNYa. Sebab oleh ibadah saya jauuuh dari sekedar baik darinya meski tak ada kondisis fisik yang membatasinya.

Sejak saat itu, saya kembali meyakini bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah sekedar titipanNYA...dan setiap kita harus siap jika kemudian titipan itu kembali diambilNYA. Semoga Alloh senantiasa menguatkan akar keimanan kita. Agar kita mampu menghadapi sgala sesuatu yang tak sama sekali kita inginkan. Amin..


Aku berjalan mengitari cakrawala…
Bawa seratus luka, kantongi sejuta bintang…
Ku daki jurang terjal di antara seribu bunga bertabur duka…
Saksikan segudang peristiwa, membasuh pedih dengan selaksa airmata..

Tuhan...dengan angin, hembuskanlah nafas kekuatan....
Agar bisa kupecahkan karang belenggu pada ranting-ranting yng rapuh.
Kabarkanlah do’a, yang dengannya ku buka 7 pintu langit-Mu..
Dan akan ku masuki bingkai ruang bertabur cinta ...
Dengan aroma keharuman malaikat subuh...
Merajut bahagia berbenang do’a dalam rangkaian hari-hari dengan satu harapan....
Bunga yang ku tanam di kening pagi, ku harap mekar di dada siang...
Dan akan ku petik hingga waktunya di kaki senja nanti....

(Oleh dia, 22 Februari 2009)



Memory, 14 Ramadhan 1429 H