Bilah Penantian

Senin, 03 Mei 2010

Bilah Penantian

Pada langit yang menatapku dalam sendu...
Ku dendangkan senandung rindu....
Pada titik-titik air yang membasahi bumi...
Ku petikkan irama hati....
Pada semilir angin yang menusuk setiap persendian...
Ku syiarkan kidung penantian....

Pada Mu Rabby....ku harapkan sebuah jawaban atas rangkaian asa jiwa.
Dari kini hingga akhirnya nanti......

Penghujung malam, 2010

~ Ketika Anak-anak Menjaga Pandangan ~

Kamis, 11 Maret 2010


~ Ketika Anak-anak Menjaga Pandangan ~

Kala dhuha di sebuah saung yang kecil dan sederhana, sebuah ruangan tanpa dinding berukuran 3 x 3 meter. Tempat dimana 8 orang anak-anak kelas 2 SDIT Al-Karima Pontianak menepekuri waktu demi waktu, menikmati proses pembelajaran yang akan mendewasakan akal, jiwa dan hati mereka. Saat itu, sebagaimana hari-hari biasanya, saya sedang membimbing anak-anak menyelesaikan latihan soal yang saya berikan sebagai bentuk evaluasi atas materi pembelajaran yang telah saya sampaikan.

Tiba-tiba Fadhil kecil saya meneriakkan suaranya : ” ibu.....!!, Nada auratnya kelihatan...!!”, sembari memejamkan mata dan menutupi mata dengan kedua tangannya. Teriakan itu lalu segera diikuti oleh teriakan ikhwan-ikhwan kecil lainnya : ”Iya Bu..., rambut Nada keliatan”, gerakan tutup mata pun serempak menghiasi ikhwan-ikhwan kecil itu. Lalu dengan senyum yang tersipu, muslimah kecil yang ada di hadapan saya segera merapikan jilbabnya dan memasukkan satu demi satu helaian rambutnya yang saling berlomba keluar dari jilbabnya yang seringkali lebih longgar dari wajah kuningnya yang mungil.

”udah...., udah nggak keliatan lagi nih..!!” Nada segera mengumandangkan info terupdatenya setelah selesai membenahi jilbabnya. Ikhwan-ikhwan kecil saya pun kompak menghentikan gerakan tutup matanya. Lalu sambil menatap ke arah Nada, dengan bijaknya fadhil kecil saya memberikan sebuah nasehat untuknya : ”Nada rambutnya masih sering kelihatan, besok-besok jangan lagi lah.”

Subhanallah !!. Demi menyaksikan anak-anak dengan sikapnya tadi saya hanya tersenyum, tanpa perlu melibatkan lebih banyak kata. Ada rasa bahagia dan haru yang tiba-tiba menyelusup ke relung-relung jiwa. Bersyukur, anak-anak diusianya yang masih muda telah belajar dan berusaha untuk menjaga matanya.

Itu bukan kali pertamanya fadhil begitu semangat menjaga matanya. Sepekan sebelumnya ketika kami belajar di lapangan footsal, ia juga melakukan yang sama. Saat kami sedang asyik duduk melingkar sembari membahas pelajaran sains. Tiba-tiba fadhil juga menutupkan kedua tangannya ke matanya, sambil berteriak : ”Ibu...auratnya nampak tuh”. Saya dan anak-anak lainnya pun segera melemparkan pandangan ke sekeliling kami. Ternyata jauh di depan fadhil ada seorang ibu beserta seorang anaknya yang sedang mandi di sungai kecil, tepat berada di depan footsal kami. Sebagaimana orang lain, sang ibu tadi hanya menggunakan selembar kain, yang tentu saja dengan telanjang kepala, tangan dan kaki.

”Oh..iya Nak. Yang lagi mandi itu yah Nak? mungkin mereka bukan muslim jadi nggak tau batasan-batasan auratnya, jika begitu fadhil nggak usah lihat ke arah sana lagi ya?!

”mmm...iya Bu...”
Fadhil lalu bersegera membuka kembali matanya dan pembelajaran pun dimulai kembali.

Masih di tempat yang sama, saat fadhil telah menyelesaikan tugasnya, Ia saya izinkan bermain di lapangan footsal itu bersama beberapa temannya yang juga telah menyelesaikan latihan-latihan soal. Sementara saya masih duduk mendampingi dan membimbing beberapa anak-anak yang belum selesai. Fadhil dan teman-temannya berlari-lari di sisi yang jauh dari saya, agar tak mengganggu konsentrasi temannya yang masih asyik menulis.

Beberapa menit berlalu, saya kembali mendengar teriakan Fadhil. ”Ibu....!! Ibu....!!”. Fadhil tampak berlari-lari ke arah saya sembari menutup matanya dengan jari-jari tangannya yang renggang, sehingga saya masih bisa melihat bola matanya yang terbuka di antara jari-jari tangannya yang mungil. Tepat di belakangnya gadis kecil yang berusia 4 tahunan dengan rambut panjangnya yang terurai dan gaun ”you can see” yang anggun berlari-lari mengejarnya. Gadis kecil itu adalah Shinta adiknya Yusril. Yusril adalah temannya sekelasnya Fadhil. Karena rumahnya yang dekat dengan lokasi kami belajar, Shinta pun seringkali mengunjungi kami. Sekedar melihat abangnya belajar atau juga ikut melibatkan diri ketika ada kesempatan bermain bersama, seperti saat itu.

Awalnya saya hanya tersenyum menatap kedua anak itu. Fadhil dan Shinta yang terus berkejar-kejaran. Tapi, demi melihat Fadhil yang begitu, saya segera menghampiri Shinta, memberi sedikit pengertian. Lalu dengan halus dan penuh kehati-hatian saya memintanya untuk segera pulang ke rumah. Shinta menggangguk dan segera beranjak menuju rumahnya. Setelah Shinta berlalu, Fadhil pun melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi menggantungkan di depan matannya.

Sungguh, akhir-akhir ini fadhil begitu semangat menjaga matanya. Ia begitu sering mengingatkan teman-temannya. Melalui Fadhil, Dia kembali mengingatkan saya. Telah banyak nikmat penglihatan yang saya lewatkan begitu saja, tanpa pemaknaan, tanpa hati. Telah banyak nikmat penglihatan yang justru membutakan hati. Astagfirullah. Kini melalui Fadhil, saya kembali belajar menjaga pandangan.

”Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. ”(Qs. As Sajdah : 9)

Medio Februari, 2010

~ Merenda Butiran Hati…. ~


Wanita itu duduk menepekuri malam..
Menatap langit dalam temaramnya malam tanpa bulan....
Mencoba menyusuri bait demi bait kehidupan yang telah dilaluimya...

Ia mencari bintang....yang biasanya setia menemani kesendiriannya...
Tapi..malam itu bintang enggan menyapanya......
Sebab oleh awan telah meneteskan muatannya ke muka bumi....


Kini hanya ‘sunyi’ yang mendekapnya erat dalam diam...
Hanya ‘gelap” yang tak pernah enggan menyelimuti malam…
Hanya ‘kelu’ yang memaku lidah ntuk tetap bungkam…
Hanya ‘gelisah’ yang menemani keresahan…


Malam trus beranjak larut…
Wanita itu tetap duduk menepekuri malam…
Kini hatinya semakin menggulana tanpa jeda....
Atau mungkin mengharu biru sebaimana birunya laut...

Sepertinya ia ingin menghayutkan ‘rasa’ dalam arus malam..
Ia melabuhkan harapan dan doa panjang akan sosok yang nantinya akan menemani hari-harinya. Pangeran hati.
Ia juga mencoba menyakinkan hatinya, agar bisa dan siap menaiki perahu kehidupan…
Karna kini nahkoda itu tlah menambatkan perahu pada dermaga hatinya….

Malam semakin jauh dan gelap. Wanita itu lalu tertidur dengan perasaan teraduk-aduk..gelisah.



Suatu hari, penghujung 2009

Agar si kecil Soleh


~ Agar Si Kecil Sholeh ~

Ayah dan Bunda yang tercinta berikut ini ada beberapa kiat mendidik anak sholeh, hasil resensi dari majalah Nakita, semoga bermanfaat yah.
Kiat Mendidik Anak Sholeh :
1. Ayah dan Bunda perlu membuat planning/rencana berupa cita-cita tentang anak seperti apa yang ingin dididik, misalnya membuat tabel yang berisi indikasi akal, jasad, hati dan pencapaiannya.
2. Ayah dan Bunda perlu mempelajari metode-metode yang efektif untuk mencapai planning (mengacu pada rencana yang dibuat pada poin 1). Misalnya kapan yang tepat mengajarkan anak naik sepeda atau belajar berenang, dan bagaimana tahapan-tahapan mengajar pada anak. Bagaimana mengenalkan Allah dan kapan saat yang tepat untuk menyampaikan pada anak dan sebagainya.
3. Mempraktekkan pendidikan anak sejak dalam kandungan. Sejak bayi lahir, pendengaran anak sudah berfungsi dengan optimal (golden age) yang berkisar antara 0-5 tahun menjadi saat yang tepat untuk menanamkan pendidikan pada anak. Metode yang bisa dipakai adalah senantiasa berbicara pada anak, menumbuhkan sugesti positif dan menjadi teladan bagi anak.
4. Ayah dan Bunda perlu mengembangkan kreatifitas dalam memilih metode mendidik anak. Misalnya mengajarkan anak istilah-istilah keislaman dalam bentuk games. Atau memanfaatkan kertas bekas untuk dibuat kartu baca saat mengajarkan anak membaca.
5. Pentingnya kerjasama antara ayah dan ibu dalam mendidik anak sholeh. Oleh karena itu penting bagi orangtua yang belum memiliki anak agar mendiskusikan dengan suami atau istri tentang bagaimana mendidik anak. Semakin dini calon orangtua dapat mempersiapkan diri menjadi orangtua yang baik, semakin baik pula kualitas pendidikan bagi anak.


Pontianak, Januari 2010
Spesial buat Ayah dan Bunda baru, Bu Hendri dan Pak Imam
Selamat atas kehadiran si kecil ”Aisyah Husna ”...:)

~ Untuk Bunda ~

Minggu, 23 Agustus 2009


Andai ku telah dewasa
Apa yang ku persembakan?
kepadamu..idolaku...
.
Andai usiaku berubah…
Ku balas cintamu bunda…pelitaku…
Penerang jiwaku...dalam setiap waktuku...

Oh...oh..ku tau kau slalu berharap
Dalam do’amu ku tau kau berjaga..
Dalam sayangmu ku tau kau mencinta...
Dalam senyummu...

Tuhan aku pinta...
Bahagiakan mereka sepertiku..

Andai ku telah dewasa
Ingin aku persembahkan..
Semurni cinta mu..setulus kasih sayangmu..
Ooo..slalu ku cinta....

I love u, Bunda..
I love u , Ayah...


Lagu Sherina itu terlantun kembali dari radio MQFM Yogya, setelah sekian lama dan sekian tahun tak terdengar di telingaku...Lalu Irama kerinduan itu tertabuh tanpa henti di ruang hatiku..

Ehm..Bunda...
Sungguh tanpamu aku bukan apa-apa...
Dan semua yang telah ku raih kini, adalah jerih payahmu...
Trimakasih yang tak terhingga atas ketulusan, cinta dan pengorbanan.
Semuanya kini telah terukir indah di hatiku..
Sampai kapanpun Bunda akan selalu hidup di sini, di satu sudut hatiku..

Selamat hari lahir Bunda....
Semoga cintaNya akan mengabadi di hatimu...
Semoga Bunda akan menjumpaiNya dengan penuh kebahagiaan..
Dan lalu menempati Istana yang selama ini Bunda impikan......
Amiiiiiiin


Yogya, 23 Agustus 09
Dengan sepenuh cinta...: "Trims yah Bun, telah membersamaiku hingga sebesar ini.."

~ Rindu itu Tertawarkan Sudah ~

Sabtu, 22 Agustus 2009


Ahlan wa sahlan yaa Ramadhan, Syarrafta yaa syahral qur’an. Selamat datang wahai bulan Ramadhan, Kedatanganmu membawa kemuliaan, wahai bulan Al-Qur’an.
Senja yang ternanti, akhirnya tiba. Senja pertama di bulan Ramadhan. Prosesi penantian panjang telah berujung. Rindu yang selalu menggelayuti jiwa, kini tertawarkan sudah. Hati ini mengharu biru. Luapan rasa syukur menyentak-nyentak kalbu. Rasa itu kini berpadu : bahagia dan haru, senyum bahagia dan tangis kesyukuran. Bahagia karna telah menerima salah satu anugrah teragung dari-Nya : Ramadhan Kariim. Keharuan juga menyeruak jiwa atas kenikmatan usia yang dari-Nya, karena tak sedikit yang harus berpulang pada-Nya ketika ramadhan tinggal terhitung jari. Juga karena Ramadhan kali ini harus saya jalani tanpa keluarga. Hal yang tak pernah dirasakan sebelumnya.
Bongkah kecemasan dan kekhawatiran jika tak bertemu dengan Ramadhan yang penuh berkah ini, kini lebur sudah. Sungguh saya semakin merasakan kasih sayang-Nya. Alloh memperkenan perjumpaan dengannya: bulan training manajemen syahwat, bulan yang penuh berkah, bulan yang penuh dengan ampunan dosa, bulan yang penuh dengan peluang emas untuk melakukan ketaatan, bulan dilipatgandakannya amal sholeh, bulan jihad dan bulan kemenangan. Alhamdulillah.
Magrib kali ini basah oleh tetes-tetes kesyukuran. Kesyukuran itu juga terlisan lewat hamdalah. Meski sesungguhnya tangis dan tahmid masih jauh dari cukup untuk menerjemahkan kesyukuran itu. Karena sejatinya bentuk kesyukuran terbaik adalah dengan tak mensia-siakan kesempatan agung itu. Dan oleh karenanya tak sedikitpun ingin menyia-nyiakan setiap detik waktu yang akan hadir hingga penghujung ramadhan nanti. Ramadhan kali ini harus menjadi momentum perubahan terbaik. Ramadhan kali ini harus meninggalkan ukiran terindah yang akan teurai dalam laku. Dan hingga uraian laku itu mengabadi sepanjang masa. Semoga....!

Awal Ramadhan adalah awal perjuangan. Berjuang membenahi diri. Berjuang, berjuang dan berjuang !!. Hingga menemukan muara akhir : Kemenangan Hakiki. Dan kemenangan itu tak kan bisa diraih kecuali atas pertolongan dan kehendak dari-Nya. Mengawali ramadhan kali itu, dengan memunajatkan sebait harap pada-Nya.
”Yaa Allah! Jadikanlah puasaku sebagai puasa orang-orang yang benar-benar berpuasa. Dan ibadah malamku sebagai ibadah orang-orang yang benar-benar melakukan ibadah malam. Dan jagalah aku dari tidurnya orang-orang yang lalai.Hapuskanlah dosaku. Wahai Tuhan sekalian alam!! Dan ampunilah aku, Wahai Pengampun para pembuat dosa.” Amiin.
Yogyakarta, 1 Ramadhan 1430 H.

~ Ketika Harus Memilih ~


Dengan sangat hati-hati saya menanyakan sesuatu yang saya tahu pasti bahwa sesuatu yang akan saya tanyakan itu ada hal yang paling sensitif baginya.
“Ma, jika suatu saat saya menikah dan suami bekerja di lain pulau dan saya harus tinggal dengannya, Bagaimana ?”.
Mama tak segera menjawab, diam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Ada raut kesedihan yang tiba-tiba hadir di wajahnya.
”Carilah yang dekat, bukankah di sini juga banyak pekerjaan.”
Hanya itu beliau katakan. Jawabannya saya pahami sebagai bentuk keberatannya.

Ketika hal yang sama saya ungkapkan ke Bapak, saya juga mendapatkan jawaban yang senada. Saya mengerti mereka berkenan jika setelah menikah saya tak lagi tinggal bersamanya. Tapi seminimalnya saya masih bisa sering hadir membersamainya. Sesuatu yang tidak mungkin saya lakukan, jika saya harus tinggal di pulau yang berbeda.

Jauh hari, saat usia saya belum genap 20 tahun, saat saya belum sama sekali terfikir oleh sebuah kata yang penuh konsekuensi ”pernikahan”. Mama sering bercerita banyak hal. Lewat cerita-ceritanya, saya mengerti dan faham bahwa seorang anak ’ragil’ (bungsu) terutama perempuan seyogyanya tidak meninggalkan rumah orangtuanya dan dialah yang kemudian menemani hari-hari senja mereka. Harapannya terhadap saya untuk menemani hari senjanya tersirat lewat cerita-cerinya. Meski secara lisan Mama memang tidak pernah meminta secara langsung. Tapi saya mengerti sekali, dalam hal apapun mama lebih sering meminta sesuatu secara tersirat. Mama tak pernah memaksakan sesuatu terhadap kami : anak-anaknya. Karena sungguh saya selalu mendapati sebagai orangtua yang lebih sering ’mengerti’ dan demokratis.

Dulu sekali, ketika mama marah. Saya hanya bisa tertunduk diam, lalu sebelum mama menuntaskan marahnya, saya segera berlari ke kamar dan lalu menangis untuk sekian lama. Tangis itu meledak bukan karna kesal dengan kemarahannya, tapi justru karna sedih, sedih karna telah membuatnya kecewa. Sedih atas kesalahan yang seharusnya saya lakukan.

Sejak saat itu hingga saat ini, saya selalu berusaha agar tak membuatnya sedih dan kecewa. Meski mungkin dari dulu hingga saat ini ada begitu banyak kekecewaan yang telah saya goreskan di hatinya. Tapi sungguh, sejak saat itu saya juga selalu berusaha memenuhi segala harapnya, sepanjang tak melanggar koridor yang syar’i. Dan juga tentang ’permintaan tersirat’nya itu.

Meskipun karenanya saya harus menguatkan hati untuk mengabaikan lelaki sholeh yang datang, hanya dengan alasan : setelahnya, saya tak bisa ’hijrah’ bersamanya karena pulau kami yang berbeda. Dan saya yakin hal tersebut tidak bernilai apa-apa jika dibandingkan dengan pengorbanannya selama ini. Selama 23 tahun sudah membersamai saya. Selama 23 tahun juga, ia tak pernah punya banyak waktu untuk beristirahat. Dulu dan bahkan hingga kini di usianya yang hampir 60 tahun masih sanggup mengayuh sepeda tuanya menjajakan kue atau buah-buahan hasil kebunnya, mengelilingi pemukiman, menyapa setiap pintu-pintu rumah yang dilaluinya. Mama yang selalu tulus mendoakan kami : anak-anaknya. Ia lah salah satu anugrah terbesar yang saya miliki.

Saya ingat sekali ketika saat-saat dimana saya harus meninggalkan Pontianak untuk kemudian menetap di Yogyakarta selama 6 bulan. Saya merasa berat meninggalkannya. Sebagaimana juga ia begitu berat meninggalkan saya. Wanita yang dipenuhi rasa cinta dan sayang itu melepas saya dengan airmatanya. Saat melihatnya saya hanya bisa berjanji dalam hati : ”Ma, saya hanya akan meninggalkanmu sejenak dan akan segera kembali disisimu, sebagaimana yang selalu engkau harapkan.”

Kini, ketika kembali harus dihadapkan pada dua pilihan : mama atau lelaki asing itu, saya tak kan ragu lagi untuk lebih memilih untuk memenuhi harapannya : membersamainya di hari senjanya. Sungguh saya akan sangat bersyukur, jika Allah menghendaki saya senantiasa hadir di sisinya. Meski jikapun itu terwujud, tak akan pernah sebanding dengan ketulusan cintanya selama ini. Saya mengerti bahwa setelah menikah seorang wanita sepenuhnya milik suaminya. Bukankah itu berarti sebelum menikah ia tetap milik orangtuanya?. Jadi sebelum pilihan itu diambil, maka orangtua sangat layak untuk di prioritaskan. Adakah yang lebih baik dari itu?!. Bukankah ridhonya orangtua adalah ridhonya Allah?.


Yogyakarta, Juli 2009
Ketika dihadapkan kembali pada pilihan itu.