~Saat Indah Bersamanya~

Selasa, 03 Juni 2008


Bila ku ingat masa kecilku…

Ku slalu menyusahkanmu.....

Bila ku ingat masa kanakku...

Ku slalu mengecewakannmu...

Banyak sekali pengorbananmu....

Yang kau berikan padaku...

Tanpa letih dan tanpa pamrih..

Kau berikan semua itu...

Engkaulah yang ku kasihi..

Engkaulah yang ku rindu..

Ku harap slalu do’amu ...

Dari dirimu ya Ibu..

Tanpa do’a mu tak kan ku raih..

Tanpa do’amu tak kan ku capai...

Segala apa yang ku cita....

Yang ku inginkan dari diriku ya Ibu....

By : NN

Alunan nasyid mengalun lembut, merdu dan syahdu....., menggetarkan dawai-dawai di hati ini..., mengalirkan cinta ke segala penjuru jiwaku...,menukik tajam tepat ke relung-relung batinku..... Tanpa sadar ada kaca bening di mataku ketika menatap satu persatu slide pada sebuah layar besar yang berada tepat di hadapanku...

Satu persatu memory masa kecilku tergambar jelas tanpa batas… lalu, satu wajah senja yang penuh kasih terbayang jelas di hadapanku. Tatapan hangat penuh cinta menggelayut di alam bawah sadarku...

Kemudian lagi... satu wajah tegar dengan tubuhnya yang tegap hadir menyapa hatiku...sosok itu slalu mengajariku untuk bersahaja dalam hidup.

Dan lalu...smua memory itu membuat air mataku tumpah tak terbendung lagi...

Tak ku pedulikan lagi orang lain yang memang sedari awal duduk manis di ruangan yang sama denganku...

Teman...mengingat kebersamaan bersama orangtua sungguh slalu membuatku tak mampu menahan tangis………..

Nanar ketika menatap tubuhnya yang semakin ringkih dan bahkan hitam terbakar matahari, Pedih ketika teringat bait demi bait perjuangan mereka, sedih ketika kini diri belum lagi bisa membahagiakannya mereka.....

Teman....sungguh betapa inginnya hati ini slalu menemani keduanya dalam suka dan duka...menghiburnya di kala duka serta turut berbagi suka dengannya...Rasanya tak ada yang lebih berharga dalam hidup ini melebihi anugrah atas kehadiran keduanya sedari kecil hingga 22 thn usiaku kini. Mereka lah motivasi terbesar ku dalam hidup ini...

Bersama irama cinta yang telah terajut di setiap inci jiwaku, hatiku bergumam lirih...: ” sungguh...aku ingin slalu bersamanya, menemaniny, menjalani hari tuanya....dan sungguh tak kan pernah ku sia-siakan hadirnya....”

Di penghujung malam., 2008

~ Di Pelataran Hati~


Gemerincing hujan dari balik jendela kamarku, merdu terdengar di telingaku. Berirama...

Kian syahdu menggelayuti hati. Malampun kian larut, tapi fikirku masih asyik berpetualang mencari keberadaanmu.

Entah mengapa hari yang kian berlalu kian membawaku ke lautan rindu yang tak juga bertepi. Dan lalu pertualanganku akan usai bersama kedipan mata terakhirku...karna pada akhirnya aku terlelap di buai malam.

Hari ini kembali ku akhiri lagi rutinitasku yang terkadang amat melelahkan. Di antara gemerincing hujan dengan sepenuh hati ku panjatkan seuntai do’a kepadaNya :” Semoga waktu akan segera menghantarkanku padamu yang telah terdampar di lukisan takdirku.’

Kemudian tanyaku kembali meyeruak : ” Kapan Dia akan mengizinkan aku jatuh cinta padamu???”. Kini setiap saat aku hanya bisa menanti di pelantaran waktu. Entah sampai kapan ku harus menanti hadirmu.

Mmmm...Bagaimana yah kabarmu saat ini?? Apa yang menghalangimu untuk segera melabuhkan hati padaku?Kenapa engkau tak kunjung tiba di hadapanku?? Atau Dia sedang membentuk hatimu, memolesnya dengan keimanan yang kokoh agar kau benar-benar siap menjemput hatiku suatu saat nanti?

Malam ini aku benar-benar telah merindukan hadirmu...Smoga rintik hujan itu mampu menyampaikan salam rinduku padamu. Aku hanya ingin kau tau bahwa di sisiku kini ada segenggam harap tentangmu, dan harapan itu akan selalu ku genggam & tak kan pernah ku lepas.

Tapi entahlah apa perasaanku ini ada pada tempat yang benar atau justru salah alamat. Aku telah menyakini pada satu hal. Hati nurani itu tak kan pernah berbohong. Dan bahwa jodoh tidak akan pernah tertukar. Aku yang tetap menanti di sini dan engkau yang akan datang menghampiriku pasti menginginkan pertemuan kita hanya Dia yang akan mengaturnya. Bukankah hubungan karna Dia akan selalu abadi?

Harapku kini smoga Dia memberikan kesabaran yang lebih kepada kita hingga saat yang dinantikan itu tiba di hadapan kita.

~ Dalam penantian, awal juni 2008~

Romantisme dalam nada

Selasa, 20 Mei 2008

dik...aku minta..
kau akan slalu setia...
dik..aku mohon....
kau slalu menemani...

saatku tengah terluka..
kalaku tengah gundah...

ku akan menjagamu...
dibangun dan tidurmu..
di semua mimpi dan nyatamu...
ku akan menjagamu tuk hidup dan matiku..
tak ingin..tak ingin...kau rapuh..

dik..jangan engkau pergi tinggalkan aku..
dik..ingin aku..cinta dan cinta slalu..
saat kau tengah terluka..
kala kau tengah gundah...

by : Wali...

hi...hi... iseng banget yah..syair murahan kayak gitu aja...saya postingin...mau protes??silahkan?? :)
Yang pasti saya punya alasan dan motivasi untuk menulisnya...


hayo...!!! siapa yang ga kenal ma lagu yang lagi hits2 nya sekarang...
kerja di laboratorium ada lagu itu, lagi makan di kantin ada lagu itu..,, ke counter Hp lagu itu juga, ke kampus banyak mahasiswa yang pede banget nyanyiin lagu itu, padahal suaranya ga' jauh bnaget ama kaleng yang jatuh ke lantai...,pulang ke rumah keponakan yang lagi kelas SMP juga lagi ngedemamin lagu itu..mulutnya komat kamit ga tentu rudu..,nada nya naik turun persis kayak anakl TK yang ga' kenal tangga nada, naik ke kamar Mas, eh Hpnyanya juga berulang2 lagu itu juga...alasannya sih bentar lagi mo' walimah gitu...jadi ga' pa2 dunk..mendadak romantis..
Tuh..tiap hari secara ga' sengaja slalu denger lagu itu..gimana ga' hafal coba!!

awalnya ...sih protes abis..lagu kaya gitu aja dibanggain..di favoritin...mendingan nasyidnya Suara Persaudaraan..lebih romantis bgt..Klo lagunya diperuntukkan buat istrinya boleh2 aja..harus bahkan tapi...tuh lagu hanya untuk dua sejoli yang tentu saja belum terbingkai dalam pernikahan...iya toh??
Tapi lama2 asyik juga denger alunan musiknya..syahdu..mampu merangsang otak kanan..mirip lagu2 favorit saya tempo dulu...coz masih lebih baik lagu itu ketimbang lagu : Bang Toyib, TTM, Jablay...dan deretan lagu2 lain yang sama sekali tak mendidik...(Bikin panas hati dengernya...)
akhirnya...cuma ada satu harap...moga2 lagu2 seperti itu bisa mengurangi tingginya angka perceraian di Indonesia...(he..he..nyambung ga' yah..?)

Ingin Menjadi Seorang Penulis Yang Produktif Bermodalkan Pengalaman&Motivasi......???Gue buanget........!!!

Senin, 12 Mei 2008

“Menulis adalah proses belajar, dan alam menjadi sumber belajar bagi kita.“ (anonim)

Menulis merupakan kemampuan dasar yang dimiliki oleh banyak orang bahkan oleh setiap orang. Karna pada dasarnya seseorang cenderung ingin menuliskan pengalaman-pengalaman hidupnya lewat sebuah diarynya. Tentu saja ada satu pengecualian, bagi mereka yang tidak bisa membaca atau bahkan tidak mengenal huruf sama sekali.Ini bearti semua orang mempunyai peluang yang sama untuk bisa menjadi seorang penulis yang berpengaruh. Tapi, kita juga nggak bisa memaksa semua orang untuk menjadi penulis.:), karna tidak semua orang memiliki motivasi untuk menjadi penulis.

Menurut Afifah Afra (Penulis) menulis adalah komunikasi. Oleh karenanya, menulis membutuhkan emosi, dimana pelibatan hati menjadi syarat mutlak dalam menulis. Sehingga tulisan-tulisan yang dihasilkan nantinya akan memiliki ”ruh”. Bagi saya menulis adalah sarana efektif untuk menyampaikan ”pesan” fikiran dan hati kepada orang lain. Selain itu menulis juga menjadi sarana untuk mengasah fikiran serta kesensitifan hati untuk tetap belajar dari setiap episode hidup yang telah, sedang dan akan di lalui. Dan pengalaman-pengalaman hidup saya maupun orang lain merupakan sumber inspirasi utama bagi saya dalam menulis.

Satu mimpi besar saya saat ini adalah menjadi seorang penulis. Mimpi ini yang berawal dari hobby membaca tulisan-tulisan ringan yang bersifat memoar (pengalaman hidup). Diary kehidupan dan cataan seorang ukhti merupakan contoh buku yang berisikan penggalan pengalaman hidup seseorang.. Satu lagi buku yang berisi pengalaman hidup yang paling berkesan dan memberikan pengaruh besar bagi saya adalah ”Bukan Cerita dari Negeri Dongeng”. Tulisan memoar lainnya juga banyak saya temui pada tulisan pribadi seseorang yang terpublikasi melalui blog mereka. Mereka adalah para blogger yang tetap produktif menulis meski hanya dari penggalan episode-episode hidup mereka. Bayu Gautama dan Yons revolta adalah beberapa contoh blogger yang terus aktif menulis. Tulisan-tulisan mereka memang sangat sederhana tetapi tulisan tersebut syarat makna dan pelajaran.

Andrea Hirata (Laskar Pelangi), Sakti Wibowo (Lelaki Takut Jatuh Cinta), Afifah Afra (catatan seorang ulkhti), Azzimah Rahayu (catatan seorang ukhti 5), Abu Aufa (Diary kehidupan 1) adalah deretan penulis yang terkenal dengan tulisan-tulisan non fiktif nya .Mereka adalah para penulis yang menjadi produktif dan kreatif karna pengalaman- pengalaman hidup dalam dunia mereka, menjadikan pengalaman hidup sebagai sumber yang paling inspiratif yang melatar belakangi karya-karya mereka dan menjadi sumber energi kreatif bagi mereka. Tulisan-tulisan mereka yang terkadang relatif sederhana memiliki pesan-pesan moral yang kemudian memberikan pencerahan kepada setiap pembacanya. Alhasil tulisan-tulisan mereka yang terbit dalam bentuk buku, laris di pasaran.

Sebagaimana pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Pengalaman seringkali memiliki pesan-pesan kauniyahNya, yang mampu mengubah hidup seseorang sekaligus juga memberikan kemampuan kepada orang tersebut untuk mengubah hidup orang lain. Karna dari setiap pengalaman ada pelajaran yang dapat ditarik meski sekecil apapun. Tapi, sayangnya masih banyak orang yang tidak bisa menarik pelajaran dari pengalaman-pengalaman hidup sekecil apapun, dalam bentuk apapun. Nah tentu saja dalam hal ini penulis merupakan orang yang mampu menarik pelajaran dari setiap pengalaman hidupnya yang kemudian mereka tuangkan dalam bentuk tulisan dan melalui tulisan tersebut penulis membagi pengalamannya untuk banyak orang..

Andrea Hirata yang menjadi tenar karna ”Laskar Pelangi”nya menyatakan bahwa jika ada seseorang yang memiliki pengalaman yanag luas, ia telah memiliki modal untuk menjadi penulis. Tetapi motivasi juga menjadi syarat utama untuk menjadi seorang penulis. Karna dengan adanya motivasi, seemuanya menjadi serba mungkin. Selain itu, menurut Nina M. Armando (Dosen jur. Komunikasi FISIP UI) sikap yang harus ditumbuhkan oleh penulis adalah sensitifitas untuk melihat bahwa pengalaman dia, atau pengalaman seseorang itu bisa bermakna ketika itu dituliskan. Tulisan juga harus dibuat menarik untuk dibaca. Detail, diksi, gaya bahasa ketika itu disajikan dengan tidak garing, maka hal tersebut akan selalu menarik perhatian orang, dan akan selalu bermakna buat orang lain. Sakti wibowo juga menambahkan semakin sering kita merenungi, mencermati dan menganalisa kejadian sehari-hari, semakin banyak ide yang bisa kita kembangkan. Satu peristiwa bertemu dengan peristiwa yang lain, akan membuat karya yang kita buat semakin kaya. Jadi tak bisa tidak, untuk dapat mengelolahnya kita memang harus sensitif.

Beberapa tips dalam menulis pengalaman hidup ’ala’ Sakti wibowo yaitu : (1) mencermati peristiwa-peristiwa sosial untuk memperkaya ide, (2) jangan bosan mencoba, (3) hilangkan subjektivisme sehingga mampu membuat tulisan yang netral dan menginspirasi semua kalangan, (4) belajar dari teknik-teknik menulis pengalaman hidup yang sudah ada. Satu pesan berharga Andreas Hareta (penulis dan motivator) adalah apapun yang terjadi, tetaplah menulis karna banyak manfaatnya : mengasah pikiran, membuat pikiran lebih berkembang dan mendorong minat baca. Dan satu hal yang paling penting bagi saya dan juga anda adalah bahwa dengan menulis maka kita telah bermanfaat bagi orang lain.

Andrie Wongso seorang yang tidak tamat SD telah mampu menulis dan menerbitkan buku-buku motivasi dengan modal pengalaman dari kemiskinan dan pahitnya kehidupannya. Buku-buku tersebut laris manis di pasaran. Ia mampui mengelola pengalaman negatifnya menjadi energi positif baginya dan juga oranglain. Bahkan saat ini Ia telah menjadi motivator no.1 di Indonesia yang telah mampu memotivasi banyak orang untuk bangkit dari keterpurukan mereka.

Jika Andrie Wongso bisa menjadi seorang penulis yang berpengaruh, bagaimana dengan saya dan juga anda......??? Ingin menjadi penulis bermodal pengalaman dan motivasi.........??? Gue banget........!!! Yuk!!!Bersama memujudkan mimpi besar kita : merubah dunia pena!!!.

Sang Motivator Handal Itu Bernama : MIMPI !

Senin, 05 Mei 2008


Judul buku : Sang Pemimpi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Cetakan Ketujuh belas : Maret 2008
Tebal : 288 Halaman
Harga : Rp. 40.000

”Peristiwa di hari ini adalah mimpi di hari kemarin, Peristiwa esok adalah mimpi di hari ini”

”Duh...sepertinya hanya sampai SMA deh mba’, soalnya ga’ ada biaya buat ngelanjutin kuliah.”

Kalimat di atas adalah pernyataan yang seringkali muncul di kalangan teman-teman SMA kita yang latar belakang orangtuanya bekerja sebagai petani, nelayan, buruh pabrik, pedagang kecil, atau pekerjaan lainnya yang notebene bukan PNS. Nada pesimis seperti ini bahkan sudah lekat di diri mereka, seolah mereka telah menyakini bahwa akan seperti itulah garis kehidupan mereka selanjutnya. Tak ada harapan besar yang mereka bangun, tak ada mimpi indah yang mereka rajut, tak ada usaha yang mereka bentangkan, bahkan mungkin tak ada bait-bait do’a suci yang mereka panjatkan setiap waktu.

Nah, jika di sekeliling anda banyak orang-orang yang pesimistis dan takut bermimpi atau bahkan anda sendiri termasuk kedalamnya, maka akan sangat baik jika anda meluangkan waktu anda untuk menikmati sajian kisah petualangan kehidupan para pemimpi yang memesona dari novel ini.

Persahabatan yang mengerakkan roda kehidupan

Novel ini mendiskripsikan secara detail dan apik tentang peristiwa-peristiwa yang menakjubkan dalam mozaik-mozaik kehidupan dari 3 orang sahabat : seorang remaja berambut ikal yang selalu semangat bernama Ikal (penulis), seorang remaja penakut tapi baik hati bernama Jimbron dan seorang lagi yang selalu berfikir positif, dia adalah Arai. Mereka adalah anak-anak melayu kampung dari keluarga miskin dan sederhana yang tinggal di sebuah pulau kecil : Belitong. Ketiga tokoh ini masing-masing memiliki karakter yang wajib mendapat acungan jempol dari siapapun. Bayangkan !! demi pendidikan SMAnya, mereka rela tinggal di los pasar kumuh serta menjadi tukang pikul ikan di dermaga, dan untuk pekerjaannya itu mereka harus bangun sejak jam 2 pagi. Hasilnya mereka bisa menyisihkan beberapa recehan uang logam untuk ditabung, setelah di potong dengan biaya sekolah, membantu keuangan keluarga dan untuk kehidupan mereka. Sebuah kerja keras yang butuh banyak pengorbanan. Dan meski dalam kelelahan fisik yang bahkan tak berujung, mereka juga prestatif. Kecuali Jimbron, Arai dan Ikal selalu menempati posisi 5 besar di sekolahnya. Wow...!!! luar biasa, bukan..??? Dan masih banyak kisah petualangan-petualangan hidup ketiga sahabat ini, kesemuanya akan membawa kita untuk mengarungi luasnya samudra hati mereka, serta dasyatnya perjuangan hidup mereka. Bahkan lantunan keindahan persahabatan mereka seringkali mampu menghadirkan nuansa haru di ruang hati kita.

Para Pemimpi Ulung

Ikal, Jimbron dan Arai, adalah adalah para pemimpi yang selalu optimis. Mereka menggantungkan rencana masa depan hanya pada tabungan uang receh. Sungguh tak masuk akal, karna seandainya tidak digunakan untuk sekolah pun, tabungan mereka yang dikumpulkan selama tiga tahun dari hasil kerja memikul ikan, tak kan cukup untuk hidup mereka selama setahun. Mereka bercita-cita sekolah ke Perancis, menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbone, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika. Sungguh tak masuk logika jika dihubungkan dengan kehidupan mereka saat itu. Bahkan mewujudkan mimpi tersebut menjadi sebuah kewajiban yang tak mengenal kata kompromi. Dan tahukah anda??? Sebagai buah dari kerja keras mereka, kini Ikal dan Arai benar-benar telah menginjakkan kakinya di Perancis, mereka telah berhasil menyelesaikan program S2nya di negara tersebut.

Ciptakan & Wujudkan Mimpimu

Novel yang ditulis berdasarkan pengalaman hidup sang penulis ini sangat menarik, sangat inspiratif, sangat menyentuh hati, mencerahkan sekaligus menggelikan pembacanya, karna sang penulis yang juga merupakan tokoh utamanya memiliki kemampuan memarodikan tragedi serta mensyastrakan fisika, kimia, biologi dan astronomi. Sungguh, novel yang merupakan bagian kedua dari tetralogi laskar pelangi ini akan membuat para pembacanya terpesona. Sehingga tak mengherankan jika novel ini telah menjadi novel best seller di Indonesia.

Novel ini juga sangat kaya dengan nilai-nilai religi, sehingga sangat banyak pelajaran moral yang dapat di petik darinya. Bahwa kesulitan hidup tidak untuk ditakuti tapi untuk di hadapi dan ditaklukkan. Bahwa hidup akan bahagia selama kita bisa membahagiakan orang lain dan menerima segala kenyataan hidup dengan hati bahagia, Bahwa setiap kita harus memiliki kacamata positif untuk melihat setiap sisi kehidupan. Bahwa seseorang akan mati jika hidup tanpa mimpi dan semangat, karna mimpi dan semangat adalah tenaga kehidupan yang luar biasa. Bahwa Alloh akan senantiasa memberikan keajaiban-keajaibanNya, atas mimpi dan kerja keras kita. Bahwa kita harus percaya pada tenaga cinta, pada kekuatan mimpi dan pengorbanan, dan satu yang paling penting, kita akan percaya pada kekuasaan Alloh.

Jadi....?? Menjadi Pemimpi?? So what...? Gitu loh!!

Mari bermimpi dan berusaha mewujudkannya dengan sepenuh hati. Selamat berlayar mengarungi mimpi-mimpimu!!!

“ KAKEKMU, KAKEKKU, KAKEK KITA “

Selasa, 01 April 2008

Suatu sore saya duduk di beranda masjid terbesar di Pontianak, menunggu seorang sahabat menyelesaikan sholat asharnya, menikmati sore dan mengamati hampir setiap orang yang berlalu lalang keluar masuk masjid Saya jarang singgah di masjid ini, terkecuali jika sedang ada kegiatan ataupun hanya jika telah masuk waktu sholat ketika dan ketika sedang melintasinya. Karna lokasinya memang jauh dari tempat tinggal dan juga jauh dari kampus. kemudian mata saya terpaku pada satu titik focus.

Engkau tahu teman? Di hadapanku ada seorang kakek…yang sedang duduk bersandar pada dinding , tepat di salah satu sudut masjid itu, beliau sedang tertidur pulas. Ia tertidur menunduk tepat seperti bunga matahari kala sore menjelang matahari terbenam, sangat layu. Saya pastikan siapapun yang tertidur dengan posisi seperti itu dalam tempo yang lebih dari 30 menit, pasti akan merasakan pegal-pegal di bagian lehernya. Dan tahukah engkau teman? Ada tetes-tetes air yang mengikuti gaya gravitasi bumi, dan saya tahu sumbernya : tepat dari kedua bibir sang kakek. Aaaah....seperti ia sedang kelelahan, entah apa aktifitas yang baru saja dilakukannya.

Teman...Sang kakek terlihat sudah sangat sepuh, mungkin usianya sekitar 75-80 tahun. Saat itu ia mengenakan celana safari hitam yang telah usang dan maaf ”kumal”, bertali pinggang rapi, tali pinggang ”tempoe dulu” seperti bahan tali tas, tak berlubang dan hanya ada sepetak besi yang tepat berada di ”atas pusat” ketika dikenakan oleh siapapun, berkaos kaki hitam dengan warna yang hampir coklat karna ada jutaan bahkan mungkin milyaran partikel debu dan juga bakteri yang duduk manis di dalamnya, bertopi”cat” hitam yang juga tak kalah kotornya dengan kaos kaki tadi, di tangan kirinya yang sudah sangat lemah melingkar sebuah arloji berantai keperakan. Tapi, sang kakek tak berbaju sehingga seluruh kulit yang bukan aurat semakin jujur berkata bahwa sang kakek memang sudah sangat senja. Naik turun nafasnya yang sangat ringkih begitu nyata terdengar. Sejenak kemudian hati ini berteriak tanpa suara : ” kakek sayang...., bangun yuk! Sudah waktunya ashar.., ”. Hati saya tetap dengan PDnya berteriak, meski saya tak tau pasti apa agama sang kakek. Dan tentu saja teriakan tanpa suara itu tak mampu membangunkannya. J
Kek...sungguh di hati ini ada cinta untukmu..., tapi ujung jari ini tak sama sekali berani meremgkuhmu, dan bibir ini tak sama sekali berani menyapamu.

Perlu engkau tahu teman....ini bukan kali pertama perjumpaan dengannya. Kira-kira 2 bulan yang lalu, suatu pagi di hari ahad, saya mengantarkan beberapa ade-ade REMAS untuk mengikuti kegiatan outbond di masjid tsb. Ahad itu adalah kali pertamanya saya melihat sang kakek, tepat di posisi yang sama di sudut teras masjid. Dan sang kakek sedang duduk tertidur dengan berbalutkan sarung yang melingkar dari pinggang hingga pergelangan lehernya. Pagi yang memang masih dingin, membuat tubuh sang kakek bergetar hebat : menggigil....! Dari penampilannya saat itu, saya yakin bahwa sang kakek telah ’tergelandang’ oleh kehidupan. Dan teras masjid menjadi peristirahatan paling aman dan nyaman baginya. Hanya di sebuah teras, karna dengan pakaiannya yang tak sama sekali bersih, sang kakek tak berani memasuki ruangan dalam masjid. Mungkin ia tak sama sekali memiliki keluarga atau pun kerabat dekat yang bersedia menerima kehadirannya di tengah-tengah mereka. Saat itu saya ingin segera membelikan satu kantong teh hangat dan satu mangkuk bubur, agar sang kakek tak lagi menggigil. Tapi saat itu saya hanya punya waktu 20 menit, sangat singkat padahal kantin2 terdekat belum juga buka. Karna pagi itu juga saya harus keluar kota untuk suatu keperluan yang sangat penting. Saya ga’ boleh terlambat. Karna perjalanan akan memakan waktu 2 jam hingga 2,5 jam. Hanya dengan alasan tersebut, saya mengurungkan niat baik itu. Alhasil di sepanjang jalan, bayangan sang kakek tetap muncul di benak saya. Sungguh...saya menyesal karena sesuatu yg telah saya urungkan. Lalu dari balik kaca helm ada tetes bening yang jatuh sedemikian pelan.

Kali kedua saya menemuinya di masjid itu juga, kala dzuhur. Dengan kostum yang sama, tanpa baju. Sang kakek sedang duduk di selasar tempat wudhu wanita, seperti sedang keletihan juga. Nafasnya yang tersengal-sengal menimbulkan alunan nada tertentu. Dan saya tau pasti ini adalah salah satu pertanda bahwa sang kakek adalah perokok hebat di masa mudanya, bahkan mungkin hingga beberapa tahun sebelumnya.

Saya fikir sang kakek hendak berwudhu juga, tapi ternyata hingga sholat usai dan sya beranjak meninggalkan masjid, ia masih tetap duduk termangu di tempat tadi. Dan saya masih belum berani menyapanya, entah mengapa...padahal biasanya saya paling senang untuk menyapa orang-orang yang brau saya temui. Dan saya tak bisa lama-lama di masjid itu, karna ada agenda presentasi ”produk pendidikan” di sebuah sekolah, dan harus ontime. Sementara waktu yang tersisa hanya cukup untuk perjalanan ke sekolah tersebut. Lagi.....saya mengabaikan sang kakek tanpa ada kebaikan apapun yang mampu saya lakukan.

Dan teman kali ketiga pertemuan saya dengannya belum juga ada rengkuhan untuknya, belum juga ada santunan penuh kasih terhadapnya, belum juga ada sapaan penuh kelembutan untuknya. Karna lagi-lagi masih dengan alasan yang sama : ashar kali itu saya dan sahabat saya sedang berburu waktu. Ada hak-hak saudara kami yang harus segera dipenuhi sore itu. Lalu kami meninggalkannya dalam pulas tidurnya . Hati ini bergumam lirih : ” maaf kek, hari ini aku masih menjadikanmu sebagai tontonan, moga esok aku masih bisa menemuimu...menyapa, bercerita penuh tawa dengan cemilan yang dapat kita nikmati bersama. Seperti yang slalu ku lakukan bersama almarhum kakek dulu.” Ya ...ketika melihat sang kakek dan setiap melihat orang yang seusia dengannya, saya selalu terkenang dengan kakek saya yang meninggal sejak 4 tahun yang lalu, tepat jam 9 di hariraya idul adha. Ada jutaan kenangan yang telah kakek ukirkan untuk saya. Ada begitu banyak nasehat yang selalu terngiang dalam benak saya hingga kini.

Sore itu saya berazzam di hati : beberapa waktu ke depan saya akan menemuimu kek, saya ingin mendengar ceritamu, keluh kesahmu dan semua tentang mu, saya akan membawa bungkusan makanan untuk menganjal perutmu yang mungkin tak pernah bisa kenyang. Dan esok jika saya menemui kakek yang lainnya, saya harus bisa meluangkan waktu untuknya meski hanya sekedar senyuman dan sapaan cinta dariku.

Teman...Sungguh di luar sana ada puluhan, ratusan bahkan mungkin jutaan kakek-kakek yang ”menggelandang” : sebatang kara tanpa ada sosok diri yang menemaninya. Mereka sendiri menapaki hidup di usianya yang semakin senja, dengan tubuh yang semakin ringkih. Mereka berusaha sendiri agar bisa bertahan di tengah belantara hidup yang konon bagi senagian orang semakin sulit untuk di lewati. Mereka adalah orang-orang yang sering kita abaikan kehadirannya. Jika saja setiap orang boleh menetukkan garis kehidupannya, tentu saja setiap kakek akan memilih meghabiskan masa tuanya di tengah-tengah keluarganya, di tengah canda tawa sang cucu dan dalam rengkungan anak-anaknya yang senantiasa menjaganya dan merawatnya dengan penuh cinta, hingga sampai ia tutup usia.

Teman...semoga tak ada lagi yang seperti saya yang terlalu sering menyiakan kesempatan indah ntuk berbagi dengan sang kakek. Mari kita sama-sama berusaha untuk dapat berbuat baik kepada kakek-kakek kita tanpa harus memandang garis nasab (keturunan) kita. Mari kita gaungkan dan patrikan dalam hati kita bahwa : ”KAKEKMU, KAKEKKU, KAKEK KITA.”. Bahwa semua kakek adalah bagian terpenting dari hidup kita. Bahwa mereka layak untuk mendapatkan cinta dari siapapun, dan juga kita meski kita bukan siapa-siapa baginya. Satu yang menjadi catatan kita bahwa kita pasti akan menjadi tua seperti mereka.

Dalam kesejukan malam
Diantara rintikan hujan...
Maret, 2008

Surat sahabat

Rabu, 12 Maret 2008




Ba’da tahmid wa shalawat

Rintik hujan subuh ini,
Menggerakkan tangan dan hatiku tuk menulis ini

Sering ku bertanya pada-Nya tentang seorang sahabat,
Suatu ketika Dia menjawab................
” Sahabat adalah seseorang yang senantiasa mencintaimu karena Ku ”

Kemudian ku bertanya lagi, lalu apa sebenarnya persahabatan itu ?
Dia pun menjawab...........
” Persahabatan adalah sebuah ikatan hati yang berdiri diatas pondasi ketulusan karena Ku ”

Akupun bertanya untuk yang kesekian kalinya, lantas... siapakah ’dia’ sahabat sejatiku?
Diapun menjawab lagi.........
” Sahabat sejatimu adalah
- ’dia’ yang senantiasa mengingatkanmu tentang Ku,
- ’dia’ yang marah kepadamu untuk-Ku
- ’dia’ yang membuatmu rindu karena Ku ”

Untuk yang terakhir kalinya aku bertanya,
Apakah yang harus kulakukan untuk menyampaikan perasaan cintaku padanya?
Lalu Diapun menjawab........
” Sampaikanlah salam penuh cinta padanya hari ini karena Ku ”

Sahabatku.........
Bening ku ingin berbisik di telingamu : semoga Allah SWT melindungimu dimanapun berada. Kehadiranmu semakin bermakna saat kau tak ada.
Salam sayang untukmu : ” Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ”