~ Ketika Kasih Menyapa Kita ~

Selasa, 16 September 2008

~ Ketika Kasih Menyapa Kita ~

Apakah kita berharga bagi oranglain??? Tentu saja : iya, karna setiap kita dianugrahi keunggulan karakter olehNya, meski juga terdapat kekurangan pada setiap diri kita. Adakalanya kita merasa tidak terlalu bearti bagi seseorang. Tapi seseorang itu merasa bahwa kehadiran kita sangat bearti dalam hidupnya. Atau bisa jadi sebaliknya, kita merasa telah begitu bearti bagi seseorang, tapi seseorang itu merasa biasa-biasa saja dengan kehadiran kita. Atau yang paling baik adalah manakala kita dan seseorang tersebut merasa sama-sama saling bearti satu sama lain.

Semoga dalam rangkaian hidup ini, kita tak kan pernah ada di posisi kedua. Posisi dimana ”aku diri” yang positif tetapi ”aku sosial” bernilai negatif. Posisi dimana kita telah merasa ’perfect” dalam segalanya (baik) tapi justru orang lain tak merasakan pengaruh yang positif atas kehadiran kita. Agar terhindar dari hal tersebut, sudah semestinya setiap kita melakukan ”hisab diri” (introspeksi diri) secara berkala. Atau sering-sering meminta orang lain untuk jujur terhadap diri kita. Dan setiap kita harus bisa menbangun komunikasi yang baik pada setiap orang-orang terdekat kita. Agar mereka merasa ’care” terhadap kita, hingga tak merasa segan memberikan teguran (kritik & saran) yang positif bagi kita.

Saya hanya ingin berbagi satu hal, tentang sepenggal romantika kehidupan bersama seseorang yang mungkin sekarang telah begitu dekat dengan saya. Saya lupa bagaimana persisnya untuk pertama kalinya Alloh mempertemukan kami. Satu hal yang pasti sudah hampir tahun saya dan juga dia saling mengenal dan seringkali bersama menggoreskan tinta di atas diari kehidupan yang sesungguhnya.

Saya dan juga dia pada awalnya seperti 2 sisi mata uang yang saling berbeda. Ia pendiam dan cenderung tertutup, sementara saya tak begitu. Ia cenderung takut untuk menyapa setiap orang yang ditemuinya, sementara saya cenderung familiar, ia cenderung egois dan manja, sementara saya justru sebaliknya. Secara fisik, Postur badan dan tingginya jauh melampaui saya. Tapi belakangan saya tau, ia memiliki IQ yang jauh lebih baik dari saya. Tapi entah bagaimana perbedaan2 itu akhirnya menjadi sebuah jalinan yang tak merugikan satu sama lain.

Awalnya dulu, dia yang begitu tertutup dengan hampir semua orang, tiba-tiba bisa begitu terbuka terhadap saya. Ia menceritakan hampir semuanya tentang kehidupannya, bahkan tentang kisah sedih dan suram di keluarganya. Sebagaimana juga saya terhadap yang selain dirinya, sejak saat itu saya berusaha ”care” dengannya. Berusaha selalu ada saat ia membutuhkan. Berusaha selalu ada ketika ia ingin didengarkan. Berusaha selalu menemaninya saat ia membutuhkan kebersamaan, berusaha berbagi motivasi saat ia tak sesemangat biasanya.

Di tengah perjalanan....saya merasa ada yang ”tidak baik” dengannya. Saya sadar ternyata
Apa yang saya usahakan untuknya...justru membuatnya terlalu bergantung terhadap saya, lebih manja dan egois. Selalu ingin diperhatikan, selalu ingin kita ada untuknya tanpa memperdulikan hak dan kewajiban saya terhadap oranglain. Bahkan ia seringkali menyatakan ketidaksukaannya manakala saya harus berbagi hati & waktu untuk rekan lainnya. Padahal prinsip saya , saya ingin memberikan pelayanan yang sama bukan hanya terhadapnya, tapi semua teman/ rekan saya tanpa memperlakukan spesial terhadap salah satu diantaranya. Saya ingin membangun hubungan yang baik terhadap siapapun. Dan sya juga ingin begitu juga dengannya. Tapi ternyata tidak begitu dengannya. Satu lagi yang membuat hati saya berontak, ia selalu dan selalu berusaha bersama saya. Menginap di rumah misalnya..Pada dasarnya saya senang terhadap siapapun yang ingin menginap di rumah. Tapi jika terlalu sering dan banyak menghabiskan waktu hanya untuk obrolan saja, maka akan ada aktivitas saya yang terlalaikan.

Sungguh saat itu saya merasa sangat bersalah dengannya. Karna ternyata kehadiran dan kedekatan yang saya bangun terhadapnya justru menjadikan pribadi tak sedewasa yang saya harapkan. Maka sejak saat itu saya berusaha merubah pola hubungan dengannya. Saya berusaha menjauh. Meniminimalkan pertemuan dengannya, menjawab sms& telfonnya seperlunya, dan berusaha cuek terhadapnya. Semuanya saya lakukan dengan satu tujuan : merubah sifat negatifnya , agar tak manja dan egois, dan membangun kedekatan dengan banyak orang agar tak terfokus dengan satu orang : saya.


Selama beberapa bulan rencana itu saya jalankan dengan sempurna, tanpa perlu mengkomunikasikan dengannya. Tapi ternyata ia menanggapinya negatif. Ia Tak berubah.
Ternyata ada yang salah dengan cara saya. Saya salah karena tak mengkomunikasikan secara baik dengannya. Sehingga ia justru tertekan dengan sikap saya yang berbeda jauh dengan hari-hari biasanya. Selang berapa lama setelah terdesak olehnya saya mencoba mengkomunikasikannya secara baik. Beberapa hari berselang sepertinya ia mulai bisa menerima dan mencoba mengoreksi diri...dan mulai mengurangi intensitas pertemuan, sms & juga telfon. Alhamdulillah...

Hanya saja seiring berjalannya waktu kadang ia kembali ke sikapnya yang semula. Dan kondisi demikian seringkali berulang. Jika sudah begitu saya berusaha memeperlakukannya sewajarnya, atau bahkan terkadang terkesan cuek dan bahkan tak memeperdulikan kehadirannya..(.He..he..., sadis juga yah??). Tapi lagi-lagi dengan satu tujuan agar dia bisa korektif dengan sikapnya yang seringkali menurut saya terlalu berlebihan dalam mengekspresikan ”sayang & perhatiannya”. Ia terlalu baik, rasanya tak ada, permintaan saya yang ditolaknya dalam bentuk jasa misalnya, ia selalu bersedia menjemput atau menghantar saya ke suatu tempat. Dia bahkan selalu ada saat saya membutuhkan pertolongannya. Hampir sempurna nilainya. Satu lagi dia paling murah hati jika harus berbagi materi. Rasanya sudah tak terhitung lagi kebaikan-kebaikan atau sikap yang menunjukkan perlakuan khusus untuk saya. Tapi entah mengapa saya merasa tak nyaman dengan semua perlakuannya. Hampir semuanya berlebihan. Meski Rasulullah telah menganjurkan kepada kita untuk dapat mengungkapkan perasaan cinta kita terhadap saudara muslim lainnya. Demikian juga dengan ungkapan sayang. Bahwa memang benar adanya : ”barang siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi ”. Tapi sekali lagi saya tetap merasa ”enggan” pada kondisi saat itu.

Alhamdulillah...Waktu yang terus berjalan...memproses persahabatan kami menjadi lebih baik.....Ia mulai dewasa, mulai bisa memahami segala kondisi yang tak mengenakan hatinya. Manjanya tak sesering dulu. Egoisnya juga semakin luruh oleh waktu...Bahkan negatif thinkingnya menghilang tanpa bekas.....:)
Begitu juga dengan saya...Kini saya sadar sepenuhnya bahwa semua kebaikan yang dilakukannya penuh ketulusan dan tanpa mengharap balas atas smuanya...Saya sadar sepenuhnya bahwa semua yang dilakukannya adalah buah kasih sayang yang begitu putih di hatinya........

Begitu banyak surat-surat hatinya yang ia kirimkan...meski kami seringkali bertemu.....
Karna dia memang sulit mengungkapkan hati dengan lisan....begitulah....
Ada satu surat terakhir yang baru saya terima sebulan yang lalu tepat di hari milad saya...
Surat yang begitu mengesankan...tak kalah mengesankan dengan surat-suratnya terdahulu...

Pa kabar mba’ ku tersayang? Semoga kasih sayang itu tak kan pernah pudar dimakan usia…..semoga kenangan indah bersama mba’ tak kan pernah luput dari ingatan..
Orang yang selalu memberiku motivasi…orang yang sabar…orang yang lembut….sehingga susah untuk mengungkapkan kekurangannmu….

Terima kasih atas kesabaranmu menjadi teman untukku…
Terimakasih sudah beredia mendengar semua keluh kesahku..
Terimakasih telah menjadi tempat untukku belajar dewasa...
Tapi memang diri ini terlalu nakal...sehingga selalu menyakiti dirimu.......

Met Milad yang ke 23..Semoga tambah sukses di dunia maupun akhirat..
Selamat juga atas gelar yang diraih : Agus Triningsih, S.Si

Trimakasih atas semua yang telah mba’ berikan untukku...
Semoga Alloh memberikan kesempatan kepada saya untuk membalas semuanya....
Minimal sama dengan yang mba’ berikan...:)

Dari sekian banyak suratnya....tak ada satu pun yang terbalas...
Tapi melalui blog ini saya akan menjawab semua surat-suratnya, hanya dengan deretan kalimat berikut :

”De..’jika hujan turun deras & lama, cobalah untuk keluar.....
Hitung & rasakan tiap tetes hujan yang membasahi dirimu...
Sebanyak itulah mba bersyukur pnya adik spertimu.”

”met milad....smoga engkau akan benar-benar segera mengakhiri kesendirianmu...
Semoga sayang yang kita miliki tak hanya sampai di sini...tapi hingga nanti di tempat sebenar-benarnya kita hidup....”



September 2008..
”Mba’ persembahkan tulisan ini...dengan sepenuh sayang di hati...
Maaf untuk ”sayang” yang belum sempat terbalas...”

Senin, 25 Agustus 2008


Diary hati, Juli 2008

~ Ketika Hati Menangis ~

Seperti biasa sembari menggarap data-data hasil penelitian, hampir pasti saya selalu mengaktifkan radio Hp. Hari ini saya mendengarkan Radio Siesta Fm (Inspirasi Indonesia) yang di relay dari Jakarta melalui radio lokal di Pontianak. Meski bukan radio dakwah, tapi program-program acara ini memang memberikan banyak perenungan, motivasi serta inspirasi tentang kehidupan. Hampir seluruh acaranya dibawakan oleh Sanaz Haq dan rekannya : Gilang. Saat itu saya menyimak salah satu program yang paling saya minati adalah :”Berhenti Sejenak”. Program ini selalu menghadirkan bintang tamu, dimana kemudian pengalaman hidupnya akan diangkat sebagai bahan renungan bagi setiap pendengar.

Kali ini Siesta menghadirkan Kang Yana, seorang ayah dari seorang anak bernama Oval (6 thn). Ia baru saja 2 tahun bercerai dengan istrinya. Ia bercerai di usia pernikahannya yang ke-10. Istrinya meminta ia dan anaknya meninggalkan rumahnya sendiri. Karna sang istri telah memiliki ”cinta ” dari laki-laki selain suaminya. Tragisnya sang istri memang meminta kang yana untuk membawa Oval pergi jauh darinya. Sebenarnya sejak 6 bulan sebelum peristiwa pngusiran itu sang istri sudah sering meminta cerai darinya tanpa ada masalah yang menjadi pemicunya. Namun kang Yana selalu berusaha membangun komunikasi dari hati ke hati dengannya agar perceraian itu tak kan pernah terjadi. Kang Yana tetap mempertahankan pernikahannya, demi menjaga perasaan dan perkembangan psikologis Oval. Dan peristiwa pengusiran hari itu membuatnya tak bisa bertahan lagi. Meski rumah itu adalah milik mereka berdua, tapi demi menjaga perasaan dan hati Oval, kang Yana tak sama sekali mengadakan perlawanan mulut terlebih lagi perlawanan fisik. Sejak hari itu hingga 2 tahun perceraiannya, kang Yana selalu menangis jika diminta atau terpaksa harus berbagi ke orang lain tentang perceraiannya. Bukan saja karna cintanya yang dikhianati tapi lebih karna kang Yana selalu didera rasa bersalah terhadap anaknya.

Sebagai pendengar saya bisa merasakan bahwa begitu besarnya kasih sayang kang Yana kepada Oval, anaknya. Diantara tangisannya kang Yana melafadkan sebait do’a buat anaknya : ”Ya Alloh berilah keberkahan hidup bagi anak saya dan jangan biarkan ia mengalami kegetiran dan kepahitan dalam hidupnya..”

Bait do’a itu terlantunkan dengan suara yang bergetar penuh harap....: Pilu banget...dalem rasanya. Begitu besarnya kasih sayangnya tersebut, hingga ia berazzam tak kan menikah lagi tanpa restu dari anaknya. Akhirnya kang Yana berpesan kepada seluruh pendengarnya :”bahwa perceraian itu menyakitkan siapapun, seperti apapun kondisi pernikahan, jangan pernah memberi kesempatan untuk perceraian.

Selama berbagi cerita, saya mendengarnya menangis sesegukan ….ada sedu sedan yang tertahan....ya...spertinya ia berusaha membendung air matanya...tapi akhirnya sedih itu tumpah tak terbendung...Tangisnya begitu menggetarkan hati ini. Bagi saya jika seorang laki-laki menangis itu menandakan bahwa ada kesedihan yang teramat sangat dari lubuk hatinya yang terdalam....

Sebab yang saya tau laki-laki adalah mahluk yang paling kuat dan seringkali mampu menyembunyikan kesedihannya. Menangis adalah hal yang sangat biasa bagi siapapun...karna hampir setiap kita pernah menangis..sebagai pelampiasan dari ”sedih” yang membuncah dalam jiwa atau senang yang teramat sangat. Seperti kang Yana kini.

Siapapun pasti tak menginginkan perceraian. Tapi manakala pilihan itu tak dapat terelakan, maka hanya keikhlasan dan kesabaran lah yang menguatkan kita.

Dan siapapun anda manakala kesedihan menyapa anda,

maka menangislah....sebab Alloh menyiptakan kantong mata tanpa gender..

menagislah...sebab menangis bukan tanda kelemahan atau ketidakmatangan seseorang.....

menangislah....karna airmata yang tertahan akan menyebabkan perasaan tertekan dan tegang....

menangislah ...karna dengannya kita akan merasa lebih nyaman.......

Report:

”Berbagai studi kedokteran menegaskan bahwa otak itu akan mengeluarkan unsur-unsur kimiawi pada saat airmatagma mengalir. Disamping itu menangis juga akan menambah jumlah detak jantung sebagai latihan yang bermanfaat bagi diafragma serta bagi otot2 dada dan kedua pundak. Setelah menangis, kecepatan detak jantung akan kembali formal, otot2 akan bisa meregang dan selaanjutnya akan muncul kondisi perasaan yang nyaman, sehingga pandangan seseorang kepada berbagai persoalan yang dihadapinya menadi lebih jelas”. (Hasan bin Muhammad Bamu’aibid, 2007: ”berobat dengan air mata”)

~ Tanpa Jeda ~

Minggu, 24 Agustus 2008


~ Tanpa Jeda ~

Rabby…

Ampuni atas sgala khilafku…..

Ampuni atas cintaMu yang tlah terlalaikan……..

Aku mulai mengerti kini…

Aku telah menemukan jawabnya...

Bahwa ini adalah ujian hati...

Bahwa saat ini belum tepat bagiku...

Bahwa ini adalah awal yang baik....

Bahwa ini adalah caraMu menarik tanganku...

Agar tak menyesal di kemudian hari...

Meski kini sesakku membuncah tanpa jeda...

Meski tangis seringkali tak dapat tertahankan....

Meski hati ini bagai tersayat sembilu..

Tapi ku yakin pasti ini adalah caraMu yang paling indah...

Karna Engkau tau bahwa hati ini tak mampu terpisah jauh dari keluarga dan juga sahabatku..

Di antara pilu ku lambungkan kesyukuran di atas kaki-kaki langitMu..

Trimakasih untuk semua pelajaran yang berceceran hikmah..dan baru ku temukan kini...

Diary Hati, Juli 2008

~ Ehm....Sekali Lagi Tentang Jodoh ~

Jumat, 22 Agustus 2008


~ Ehm....Sekali Lagi Tentang Jodoh ~

”Kak... calon suami Qta sedang apa yahJ?...knp tak kunjung datang juga..:)? Sungguh hati ini begitu telah merindukan hadirnya...ingin segera mencium punggung tangannya...ingin segera berbakti kepadanya...ingin segera membasuh peluh2 perjuangannya..ingin segera menggenapkan setengah dien ini....”

Message delivered.....

1 message recceived :

”Sabar dunk...jodoh kita ga’ akan pernah tertukar deh...dia akan datang pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat....saat kita telah menantinya dan dia belum datang juga...itu artinya kita masih punya banyak waktu untuk memperbaiki kualitas hati & diri...karna dia yang akan hadir tidak akan jauh berbeda dengan kita”

Sebuah balasan sms saya terima dari seorang sahabat di Sibolga-Medan, Seorang akhwat yang tentu saja cantik secara fisik maupun zhahir. Seorang guru PNS di daerahnya. Seorang akhwat yang tentu saja sempurna di mata ikhwan manapun. Namun, saat ini ia juga masih dalam bilik yang sama seperti saya : ”bilik penantian”. Entah apa yang membuatnya belum menikah hingga saat ini, tapi satu jawaban yang pasti sudah kita ketahui bersama adalah karna Alloh belum mempertemukannya dengan jodohnya. Meski usianya kini jauh melampaui usia saya, tapi ia tak sama sekali mengeluh dan selalu saja sabar menanti. Dan satu hal yang paling istimewa darinya, ia selalu saja berprasangka baik padaNya. Tak pernah ada kecemasan, tak ada kekhawatiran. Hatinya selalu penuh dengan bulir-bulir kesyukuran padaNya. Subhanallah.

Teringat kembali dengan sebuah diary hati seorang akhwat yang pernah saya baca dari sebuah blog beberapa tahun yang lalu. Dalam diary tersebut saya ketahui bahwa akhwat ini telah ”berproses” sebanyak 21 kali dalam kurun waktu beberapa tahun. Dan kesemua proses tersebut tak sama sekali berujung pada pelaminan yang telah ia nanti-nantikan. Entah apa faktor penyebabnya...Yang pasti hingga saat itu, akhwat tersebut tetap kuat berdiri. Meski mungkin sambil menata pilar-pilar hatinya yang tumbang tak beraturan. Kecewa pasti ia rasakan, karna itu adalah fitrah diri, tapi tentu saja ia tak sama sekali menyesali atau bahkan menangisi diri. Ia bahkan mampu membesarkan hatinya hingga saat ini. Sembari khusnudzon padaNya atas smuanya. Tak ada benci pada sang Khalik. Semuanya ia terima sebagai bukti cintaNya terhadapnya. Ahh....ia sungguh hebat.

Entah mengapa....hati ini kadang terasa tak sabar lagi menanti hadirnya, padahal belum genap dua bulan menanti...iya...baru saja dua pekan hati ini memutuskan untuk siap menikah.......Apalagi sekarang setelah usia ini genap 23 tahun. Begitu inginnya hati memanajemen usia yang telah Alloh anugrahkan.

Syukurlah Alloh menghadirkan orang lain bagi saya untuk berkaca diri. Saat kadang merasa tak sabar lagi, saya akan kembali berkaca diri pada seorang dosen di kampus saya. Beliau adalah anak sulung dari 4 bersaudara. Di usianya yang telah matang (31 thn) dengan karier yang sedemikian bagus (dosen negri), beliau belum juga menikah (tahun 2004). Bukan karna tak ingin, atau belum menemukan jodohnya...Tetapi memang sengaja menundanya hingga sekian lama. Demi membahagiakan sang ibu (ayahnya telah meninggal sejak kecil), dan ketiga adik-adiknya, ia rela mengorbankan waktu dan segala materi yang dimiliki. Azzamnya ia hanya akan menikah jika ketiga adiknya sudah menyelesaikan program S1. Iya, semenjak kuliah dulu beliau memang menjadi tulang punggung keluarganya. Azzam tersebut memang dibuktikan dengan kesungguhannya. Ketiga adiknya telah mendapatkan gelar S1 nya, beliau sendiri telah mnyelesaikan S2nya. Dan akhirnya di usianya yang ke 35, tepatnya 4 bulan yang lalu beliau baru mengakhiri masa lajangnya. Ehmm...sungguh bagi saya apa yang telah beliau lakukan adalah pengorbanan yang luar biasa. Pengorbanan yang tentu saja tak semua orang dapat melakukannya.

Meski saya bukan anak sulung dan tak memiliki adik. Tapi saya tetap ingin membahagiakan keluarga saya serta berkorban untuk mereka. Tapi bukan bearti dengan pengorbanan yang sama : ”menunda pernikahan”, karna saya yakin masih banyak hal lain yang bisa saya persembahkan untuk keluarga saya. Dan saat ini saya tetap memutuskan untuk menyegerakan menikah. Karna begitu banyak keutamaan –keutamaan yang Alloh berikan pada seorang istri, terlebih seorang ibu. Dan saya ingin mendapatkan kesempatan itu. Tapi manakala Alloh belum menghadirkannya, Tak ada yang lebih bijak selain memperbaiki kualitas diri dihadapannya. Bagaimana menurut anda????????


Agustus 2008
Malam menjelang dini hari

~Ehmmmmm...Akhirnya....~

Rabu, 23 Juli 2008

Dear alam mayaku…..

Hari ini Kamis, 10 Juli 2008.....akhirnya aku lulus juga ry....

Alhamdulillah....sungguh telah penuh kesyukuran di hati ini..

Ah....hari yang sekian lama tlah ku nantikan.....

6 tahun ry.... hampir 6 tahun aku memperjuangkan smuanya...

Begitu panjang jalan yang harus ku lalui...

Kau pasti tau ry, apa yg ke rasakan kini...

Kebahagian itu tumpah ry..........

Ada suka yang bertaburkan jutaan tawa dan jutaan canda...

Ada duka yang yang mengundang mendung dan tangis di hati...

Ada lelah yang berhiaskan peluh yang megundang aroma anyir di tubuhku...

Ada semangat yang membahana atas sebuah cita....

Ada merah yang merona atas kesemuan sebuah cinta....

Meski tragedi pernah datang menyapaku........

Tapi....Indah ry....semuanya yang kulalui adalah pesona keindahan yang tiada duanya...

Begitu manis untuk dirasakan oleh siapapun juga.......

Begitu merdu jika harus ku kumandangkan syair-syair yg telah terangkai selama ini...

Kau pasti tau ry, apa yg ke rasakan kini...

Kebahagian itu tumpah ry..........

Terlebih ketika melihat binar kebahagiaan di wajah Bapak ry...

Smua perbendaharaan kata yang ku punya tak kan cukup untuk mendiskripsikan ekspesinya kala itu...........

Sungguh Tak pernah ku lihat sebelumny ry.............

Bapak.....iya Bapak adalah sumber motivasi terbesarku ry.........

Terakhir saat penelitian hingga menjelang wisuda...aku begitu sering memutar

”ada band – Yang terbaik untuknya...”......

Bait-bait itu menguatkanku ketika lemah....meringankan bebanku ketika smuanya terasa berat....menarik langkahku ketika mulai lambat melangkah...................

Mama’.....Mama’ adalah sumber kekuatan cintaku ...agar tetap dapat menapaki rintangan dengan sepenuh cinta di hati...........

Aku juga selalu memutar nasyid ”masa kecil bersama ibu” hampir setiap malam...

Bait-bait itu juga semakin menguatkan kesabaranku....atas segala sesuatu yang terasa sulit bagiku....

Mama’ yang selalu setia menantiku di depan pintu setiap malam ketika ku pulang malam dengan lelah yang tak tertahankan..........

Mama’ yang selalu menawariku makan meski kadang tak ada inginku tuk sesuap nasi...

Sungguh..........betapaku kagum dengan cinta yang mereka miliki........

Dan kelulusan hari ini adalah untuk mereka..........

Akhirnya tak ada kata yang lebih indah dari pada kesyukuran atas nikmatnya di hari ini

”Alhamdulillahi rabbil ’alamiin..................”

Semoga semua yang telah ku terima di hari ini semakin menambah cintaku padaNya

Dan semakin menambah ketaatanku padaNya..........Amiiin.



10 Juli 2008

ketika bahagia masih memenuhi rongga hatiku...

`Harmony Hati`

Seorang sahabat mengirimkan SMS nya ke saya:

”Jodoh memang sebuah misteri Illahi…seperti misteri segitiga bermuda Formosa, seperti misteri penyalipan yudas …seperti lenyapnya benua Atlantis dan harta raja Sulaiman.”

Mmm...iya, setiap kita pasti mengiyakannya. Bahwa jodoh adalah sebuah misteri yang unik bagi siapapun. Berbibacara tentang jodoh, seketika saya teringat seorang novelis ternama di Indonesia : Helvy Triana Rossa. Beberapa bulan yang lalu saya mengunjungi blog beliau. Sebuah blog yang berisi tentang romantika kehidupannya dengan sang suami: mas Tomy. Tentang mas Tomy nya itu...., seseorang yang awal tak sama sekali ia kenal kini telah mendampingi hidupnya selama 12 tahun. Sedari kecil mba Helvy tak sama sekali memiliki teman maupun karib keluarga yang bernama Tomy. Tetapi Tomy adalah sebuah nama yang ia berikan kepada boneka kecilnya. Hingga kemudian Alloh menghadirkan seorang Tomy untuknya. Ia dijodohkan dengan Mas tomy yang sedehana dan memiliki karakter yang hampir pasti berlawanan dengan karakternya. Menurut Faridz, anaknya yang kini juga telah menjdi penulis cilik : ”Bunda tuh sangat jauh berbeda dengan Ayah. Bunda romantis sementara ayah ga’ sama sekali romantis, Bunda seriiiing ngobrol, tapi ayah sangat pendiam, Bunda tuh begini tapi ayah begitu...duh pokoknya banyak banget deh beda nya.... Tapi hebatnya bunda dan ayah tuh ga’ pernah bertengkar.., Bunda ngertiin ayah banget...Ayah juga begitu... dan yang pasti bunda dan ayah sama-sama saling mencintai dan sama-sama sholeh.:)

Perbedaan karakter yang serupa juga saya temukan pada kedua orangtua saya. Bahkan hampir tak ada persamaan karakter antara keduanya. Meski mereka tak saling mengenal satu sama lain sebelum pernikahan (mama’ menerima lamaran bapak lantaran kakek juga menerimannya dengan hanya satu alasan : bapak pinter shholat dan ngaji, meski saat itu bapak tak mempunyai pekerjaan tetap), Teapi seiring berjalannya waktu mereka sama-sama bisa saling menyanyangi, saling mencintai, saling mengerti, saling menerima kekurangan satu sama lain, dan saling memahami perbedaan-perbedaan di antara keduanya Demikian juga dengan ketiga saudara saya yang telah menikah. Ada banyak perbedaan yang saya temukan antara mereka dengan pasangannya masing-masing. Perbedaan itu justru terlihat lebih indah. Iya tentu..karna bagi saya saling memahami dan mengerti antara satu sama lain adalah harmony kehidupan yang sangat indah. Meski perbedaan bisa menjadi potensi konflik bagi siapapun. Dan tentu saja tak akan ada hubungan tanpa konflik. Tapi kedekatan diri denganNya akan mampu mengatasi konflik dengan ending yang sangat bijak.

Sekarang saya mulai dapat menyimpulkan bahwa jodoh kita tidaklah harus berkarakter sama dengan kita. Justru sepertinya kita harus mencari atau bahkan menciptakan perbedaan itu. Perbedaan itu akan menjadi suatu tantangan yang jika kita kelola dengan baik akan menjadi kekuatan terbaik bagi kita. Jadi sebenarnya kita tidak perlu melakukan pendekatan personal dengan seseorang yang merupakan jodoh kita nantinya. Karna kita tak perlu mencari kecocokan sikap dan karakter.

Bahwa Islam hanya membolehkan taaruf dan mengharamkan sesuatu yang melebihi itu memang benar adanya. Tak perlu adanya penjajakan, tak perlu ada pacaran karna darinya tak kan ada manfaat apapun. Alasan untuk menemukan kecocokan, saling memahami atau apapun sesungguhnya hanya alasan klise yang sebenarnya tak kan berpengaruh apapun terhadap keharmonisan rumah tangga di kemudian hari. Karna kita tak perlu mencari kecocokan sikap dan karakter. Kita hanya perlu menyiapkan kekuatan ruh, hati, jiwa dan fikiran untuk dapat beradaptasi dengan kemungkinan perbedaan yang ada. Kita hanya perlu tau kualitas keimanannya. Karna semakin tinggi keimanan seseorang maka ia akan semakin bijak dan sabar menjalani proses adaptif di kemudian hari, tanpa ada keluh kesah dan tanpa kecewa di hati.

Ehm....jadi berjodoh dengan orang yang baru saja kita kenal atau menerima proses perjodohan??? So what gitu loh?? Tapi : ”Iman ”..harus menjadi sandaran utama kita untuk menentukan pilihan itu...Bagaimana??? setuju???.


Juli 2008

kala masih menantinya...

~Temaram Senja~

Jumat, 11 Juli 2008


~Temaram Senja~


Menatap langit sesudah senja…….

Ada jutaan bahkan milyaran bintang .......

Memenuhi langit malamku...seolah tak ada ruang kosong yang tersisa...

Berkelap-kelip menggodaku...

Senyum tulus nan lebar pun segera ku lepas ke udara...

Mengangkasa...membalas tiap kerlipan sahabat malamku...

Deretan pepohonan di bawahku, juga turut menggodaku...

Samar-samar ku lihat dahannya menari gemulai oleh hembusan angin...

Ah......alam malamku tanpa hujan memang senantiasa indah...

Bercengkrama dengannya akan selalu menghadirkan kedamaian di ruang hati...

Meski hanya menyapanya dalam diam...

Mereka yang selalu setia menemaniku yang seringkali berdiri mematung di teras atas rumahku...

Jika senja telah terlewat aku slalu tak beruntung...

Burung- burung sudah kembali ke sarangnya...

Tiada lagi kicauannya..

Hanya sekawanan jangkrik yang senantiasa melengkingkan suaranya..

Sesekali ku ikuti iramanya sambil melafadzkan dzikir almasturatku....

Atau senandung- senandung hati gubahanku...

Sungguh...aku selalu ingin diantara mereka..

Di antara jutaan bintang..diantara irama jangkrik..dan di antara tarian dedaunan....

Mentafakuri irama hidup dalam bait-bait senja..

Dan lalu ketika isya berkumandang ...tuntaslah sgala gundah tertelam alam senjaku....

Ahad, 29 Juni 2008

Saat lelah mengolah data2 T.A ku...