Senin, 25 Agustus 2008


Diary hati, Juli 2008

~ Ketika Hati Menangis ~

Seperti biasa sembari menggarap data-data hasil penelitian, hampir pasti saya selalu mengaktifkan radio Hp. Hari ini saya mendengarkan Radio Siesta Fm (Inspirasi Indonesia) yang di relay dari Jakarta melalui radio lokal di Pontianak. Meski bukan radio dakwah, tapi program-program acara ini memang memberikan banyak perenungan, motivasi serta inspirasi tentang kehidupan. Hampir seluruh acaranya dibawakan oleh Sanaz Haq dan rekannya : Gilang. Saat itu saya menyimak salah satu program yang paling saya minati adalah :”Berhenti Sejenak”. Program ini selalu menghadirkan bintang tamu, dimana kemudian pengalaman hidupnya akan diangkat sebagai bahan renungan bagi setiap pendengar.

Kali ini Siesta menghadirkan Kang Yana, seorang ayah dari seorang anak bernama Oval (6 thn). Ia baru saja 2 tahun bercerai dengan istrinya. Ia bercerai di usia pernikahannya yang ke-10. Istrinya meminta ia dan anaknya meninggalkan rumahnya sendiri. Karna sang istri telah memiliki ”cinta ” dari laki-laki selain suaminya. Tragisnya sang istri memang meminta kang yana untuk membawa Oval pergi jauh darinya. Sebenarnya sejak 6 bulan sebelum peristiwa pngusiran itu sang istri sudah sering meminta cerai darinya tanpa ada masalah yang menjadi pemicunya. Namun kang Yana selalu berusaha membangun komunikasi dari hati ke hati dengannya agar perceraian itu tak kan pernah terjadi. Kang Yana tetap mempertahankan pernikahannya, demi menjaga perasaan dan perkembangan psikologis Oval. Dan peristiwa pengusiran hari itu membuatnya tak bisa bertahan lagi. Meski rumah itu adalah milik mereka berdua, tapi demi menjaga perasaan dan hati Oval, kang Yana tak sama sekali mengadakan perlawanan mulut terlebih lagi perlawanan fisik. Sejak hari itu hingga 2 tahun perceraiannya, kang Yana selalu menangis jika diminta atau terpaksa harus berbagi ke orang lain tentang perceraiannya. Bukan saja karna cintanya yang dikhianati tapi lebih karna kang Yana selalu didera rasa bersalah terhadap anaknya.

Sebagai pendengar saya bisa merasakan bahwa begitu besarnya kasih sayang kang Yana kepada Oval, anaknya. Diantara tangisannya kang Yana melafadkan sebait do’a buat anaknya : ”Ya Alloh berilah keberkahan hidup bagi anak saya dan jangan biarkan ia mengalami kegetiran dan kepahitan dalam hidupnya..”

Bait do’a itu terlantunkan dengan suara yang bergetar penuh harap....: Pilu banget...dalem rasanya. Begitu besarnya kasih sayangnya tersebut, hingga ia berazzam tak kan menikah lagi tanpa restu dari anaknya. Akhirnya kang Yana berpesan kepada seluruh pendengarnya :”bahwa perceraian itu menyakitkan siapapun, seperti apapun kondisi pernikahan, jangan pernah memberi kesempatan untuk perceraian.

Selama berbagi cerita, saya mendengarnya menangis sesegukan ….ada sedu sedan yang tertahan....ya...spertinya ia berusaha membendung air matanya...tapi akhirnya sedih itu tumpah tak terbendung...Tangisnya begitu menggetarkan hati ini. Bagi saya jika seorang laki-laki menangis itu menandakan bahwa ada kesedihan yang teramat sangat dari lubuk hatinya yang terdalam....

Sebab yang saya tau laki-laki adalah mahluk yang paling kuat dan seringkali mampu menyembunyikan kesedihannya. Menangis adalah hal yang sangat biasa bagi siapapun...karna hampir setiap kita pernah menangis..sebagai pelampiasan dari ”sedih” yang membuncah dalam jiwa atau senang yang teramat sangat. Seperti kang Yana kini.

Siapapun pasti tak menginginkan perceraian. Tapi manakala pilihan itu tak dapat terelakan, maka hanya keikhlasan dan kesabaran lah yang menguatkan kita.

Dan siapapun anda manakala kesedihan menyapa anda,

maka menangislah....sebab Alloh menyiptakan kantong mata tanpa gender..

menagislah...sebab menangis bukan tanda kelemahan atau ketidakmatangan seseorang.....

menangislah....karna airmata yang tertahan akan menyebabkan perasaan tertekan dan tegang....

menangislah ...karna dengannya kita akan merasa lebih nyaman.......

Report:

”Berbagai studi kedokteran menegaskan bahwa otak itu akan mengeluarkan unsur-unsur kimiawi pada saat airmatagma mengalir. Disamping itu menangis juga akan menambah jumlah detak jantung sebagai latihan yang bermanfaat bagi diafragma serta bagi otot2 dada dan kedua pundak. Setelah menangis, kecepatan detak jantung akan kembali formal, otot2 akan bisa meregang dan selaanjutnya akan muncul kondisi perasaan yang nyaman, sehingga pandangan seseorang kepada berbagai persoalan yang dihadapinya menadi lebih jelas”. (Hasan bin Muhammad Bamu’aibid, 2007: ”berobat dengan air mata”)

~ Tanpa Jeda ~

Minggu, 24 Agustus 2008


~ Tanpa Jeda ~

Rabby…

Ampuni atas sgala khilafku…..

Ampuni atas cintaMu yang tlah terlalaikan……..

Aku mulai mengerti kini…

Aku telah menemukan jawabnya...

Bahwa ini adalah ujian hati...

Bahwa saat ini belum tepat bagiku...

Bahwa ini adalah awal yang baik....

Bahwa ini adalah caraMu menarik tanganku...

Agar tak menyesal di kemudian hari...

Meski kini sesakku membuncah tanpa jeda...

Meski tangis seringkali tak dapat tertahankan....

Meski hati ini bagai tersayat sembilu..

Tapi ku yakin pasti ini adalah caraMu yang paling indah...

Karna Engkau tau bahwa hati ini tak mampu terpisah jauh dari keluarga dan juga sahabatku..

Di antara pilu ku lambungkan kesyukuran di atas kaki-kaki langitMu..

Trimakasih untuk semua pelajaran yang berceceran hikmah..dan baru ku temukan kini...

Diary Hati, Juli 2008

~ Ehm....Sekali Lagi Tentang Jodoh ~

Jumat, 22 Agustus 2008


~ Ehm....Sekali Lagi Tentang Jodoh ~

”Kak... calon suami Qta sedang apa yahJ?...knp tak kunjung datang juga..:)? Sungguh hati ini begitu telah merindukan hadirnya...ingin segera mencium punggung tangannya...ingin segera berbakti kepadanya...ingin segera membasuh peluh2 perjuangannya..ingin segera menggenapkan setengah dien ini....”

Message delivered.....

1 message recceived :

”Sabar dunk...jodoh kita ga’ akan pernah tertukar deh...dia akan datang pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat....saat kita telah menantinya dan dia belum datang juga...itu artinya kita masih punya banyak waktu untuk memperbaiki kualitas hati & diri...karna dia yang akan hadir tidak akan jauh berbeda dengan kita”

Sebuah balasan sms saya terima dari seorang sahabat di Sibolga-Medan, Seorang akhwat yang tentu saja cantik secara fisik maupun zhahir. Seorang guru PNS di daerahnya. Seorang akhwat yang tentu saja sempurna di mata ikhwan manapun. Namun, saat ini ia juga masih dalam bilik yang sama seperti saya : ”bilik penantian”. Entah apa yang membuatnya belum menikah hingga saat ini, tapi satu jawaban yang pasti sudah kita ketahui bersama adalah karna Alloh belum mempertemukannya dengan jodohnya. Meski usianya kini jauh melampaui usia saya, tapi ia tak sama sekali mengeluh dan selalu saja sabar menanti. Dan satu hal yang paling istimewa darinya, ia selalu saja berprasangka baik padaNya. Tak pernah ada kecemasan, tak ada kekhawatiran. Hatinya selalu penuh dengan bulir-bulir kesyukuran padaNya. Subhanallah.

Teringat kembali dengan sebuah diary hati seorang akhwat yang pernah saya baca dari sebuah blog beberapa tahun yang lalu. Dalam diary tersebut saya ketahui bahwa akhwat ini telah ”berproses” sebanyak 21 kali dalam kurun waktu beberapa tahun. Dan kesemua proses tersebut tak sama sekali berujung pada pelaminan yang telah ia nanti-nantikan. Entah apa faktor penyebabnya...Yang pasti hingga saat itu, akhwat tersebut tetap kuat berdiri. Meski mungkin sambil menata pilar-pilar hatinya yang tumbang tak beraturan. Kecewa pasti ia rasakan, karna itu adalah fitrah diri, tapi tentu saja ia tak sama sekali menyesali atau bahkan menangisi diri. Ia bahkan mampu membesarkan hatinya hingga saat ini. Sembari khusnudzon padaNya atas smuanya. Tak ada benci pada sang Khalik. Semuanya ia terima sebagai bukti cintaNya terhadapnya. Ahh....ia sungguh hebat.

Entah mengapa....hati ini kadang terasa tak sabar lagi menanti hadirnya, padahal belum genap dua bulan menanti...iya...baru saja dua pekan hati ini memutuskan untuk siap menikah.......Apalagi sekarang setelah usia ini genap 23 tahun. Begitu inginnya hati memanajemen usia yang telah Alloh anugrahkan.

Syukurlah Alloh menghadirkan orang lain bagi saya untuk berkaca diri. Saat kadang merasa tak sabar lagi, saya akan kembali berkaca diri pada seorang dosen di kampus saya. Beliau adalah anak sulung dari 4 bersaudara. Di usianya yang telah matang (31 thn) dengan karier yang sedemikian bagus (dosen negri), beliau belum juga menikah (tahun 2004). Bukan karna tak ingin, atau belum menemukan jodohnya...Tetapi memang sengaja menundanya hingga sekian lama. Demi membahagiakan sang ibu (ayahnya telah meninggal sejak kecil), dan ketiga adik-adiknya, ia rela mengorbankan waktu dan segala materi yang dimiliki. Azzamnya ia hanya akan menikah jika ketiga adiknya sudah menyelesaikan program S1. Iya, semenjak kuliah dulu beliau memang menjadi tulang punggung keluarganya. Azzam tersebut memang dibuktikan dengan kesungguhannya. Ketiga adiknya telah mendapatkan gelar S1 nya, beliau sendiri telah mnyelesaikan S2nya. Dan akhirnya di usianya yang ke 35, tepatnya 4 bulan yang lalu beliau baru mengakhiri masa lajangnya. Ehmm...sungguh bagi saya apa yang telah beliau lakukan adalah pengorbanan yang luar biasa. Pengorbanan yang tentu saja tak semua orang dapat melakukannya.

Meski saya bukan anak sulung dan tak memiliki adik. Tapi saya tetap ingin membahagiakan keluarga saya serta berkorban untuk mereka. Tapi bukan bearti dengan pengorbanan yang sama : ”menunda pernikahan”, karna saya yakin masih banyak hal lain yang bisa saya persembahkan untuk keluarga saya. Dan saat ini saya tetap memutuskan untuk menyegerakan menikah. Karna begitu banyak keutamaan –keutamaan yang Alloh berikan pada seorang istri, terlebih seorang ibu. Dan saya ingin mendapatkan kesempatan itu. Tapi manakala Alloh belum menghadirkannya, Tak ada yang lebih bijak selain memperbaiki kualitas diri dihadapannya. Bagaimana menurut anda????????


Agustus 2008
Malam menjelang dini hari